Smart Emotion RadioTalk

HR Excellency.

ELT,PLT Trainers Meet

MWS Indonesia.

with Abdul and the Coffee Theory

Seminar Kecerdasan Emosi bersama Suara Pembaruan.

Great Trainer in Action

ELT Certification Workshop.

Sabtu, 21 September 2013

Berbisnis dengan Mulia!

Berbisnis dengan Mulia!


Terus terang, berbisnis dengan mulia itu sulitnya setengah mati.
Saya ingin membagikan kisah ini.
Baru-baru ini, ada sebuah tawaran menarik terkait degan bisnis kami. Bisnis di dunia pelatihan. Intinya, kalau kami bersedia mengajar di instansi tersebut, maka kami akan mendapat berangkatan-angkatan. Ini artinya bisnisnya akan banyak sekali! Bisa tahunan kami mengajar di sana, tidak perlu susah-susah lagi jualan dan hanya mengajar disana. Hanya saja, pihak dari instansi itu meminta satu syarat, syaratnya adalah kami harus memberikan uang sogokan sekitar 30 persen agar kamilah yang lantas dipilih.
Saya bukanlah orang yang sangat-sangat suci. Buktinya? Saya “ternyata” masih sempat harus memikirkan secara mendalam ketika mendapatkan tawaran ini. Bahkan, saya harus merembuk dengan tim internalku soal tawaran ini. Bayangkan? Kalau kita mau, maka artinya kita akan bisa mendapatkan jaminan berkali-kali melakukan pelatihan sepanjang tahun. Malahan, bisa jadi akan ke tahun-tahun berikutnya. Terus terang ini sangat-sangat menggoda.
Tapi, jawaban dari timku luar biasa.
“NO. THANKS!”
Itulah yang sekaligus membuatku selalu bangga dengan integritas dan prinsip-prinsip timku! Sangat-sangat bangga, hingga sekarang!
Mereka mengatakan sebaiknya ditolak saja.
Dua alasan yang mereka kemukakan.
Satu, melanggar prinsip. Jika kita mulai memberi-beri komisi, hal ini mencoreng muka sendiri karena menjalankan bisnis dengan cara yang sebenarnya tidak pantas. Alasan kedua, biarlah kita memang dipilih karena kualitas pelatihan kita yang baik, bukan karena kita adalah perusahaan yang suka kasih komisi. Sebenarnya, ada alasan ketiga juga sih,
“Toh bisnis kita masih berjalan dengan baik. Training  kita masih banyak. Dan tidak perlu melanggar prinsip-prinsip seperti itu demi mendapatkan bisnis!”
Nah, tim seperti itulah yang saya miliki! Saya bangga tapi juga kadang bingung,
MENJALANKAN BISNIS DEGAN MULIA DI JAMAN SEKARANG, BUKANLAH PERKARA YANG MUDAH!
          Terus terang ini bukan yang pertama kalinya.
          Ada kisah sebelumnya.
          Saya pernah ditawari untuk mengajar di sebuah perusahaan. Sama juga. Cuma kali ini lebih parah. Penawarannya adalah 20 persen dan 80 persen. Jangan salah lho! 20% buat si trainer tetapi 80% bagi pihak oknum-oknum di perusahaan itu. Menurut mereka, angka 80% itu mereka minta, sebab banyak yang harus dikasih jatah. Tapi, mereka setuju kalau dari harga normalku, di mark up saja 80%-nya. Jadi saya tidak akan rugi apapun sebenarnya. Bahkan, kalau saya bersedia maka saya pasti tidak perlu jualan lagi selama TIGA TAHUN! Ini betul-betul menggoda.
Tapi itu sudah kisah masa lalu, karena saya menolaknya!
Waktu itu alasan saya sangat logis dan sangat praktis.
Bukan karena persentase yang tidak adil! Sama sekali bukan! (Toh kalau mau saya tetap mendapatkan angka yang saya inginkan)
Juga bukan karena alasan idealisme saya. Saya bukanlah orang suci yang tanpa cacat cela dalam belajar menegakkan prinsip. Terus terang, hingga kinipun saya pun masih harus banyak belajar soal memegang prinsip dalam hidupku. Tapi, alasan saya sangat praktis dan logis.
Alasannya…
Kalau saya terbiasa menjalankan bisnis dengan cara mencari untung melalui komisi atau memberikan suap, maka akibatnya saya akan terbiasa. Lantas, daripada berupaya mengembangkan produk, servis yang kami miliki, malahan otak kami sibuk diracuni dengan bagaimana cara kami mendapatkan lembaga dan perusahaan yang orangnya bisa dikasih suap. Lama-kelamaan otot bisnis kami melemah. Lebih buruknya, kemampuan kami untuk memberikan jasa training yang lebih baik, yang lebih berkualitaspun jadi melemah. Karena, tiap hari kami jadi sibuk mencari dimana ada perusahaan ataupun organisasi yang bisa dikasih sogokan. Bukannya, bagaimana mengembangkan produk dan servis kami.
Itulah ALASAN UTAMA-nya, maka kutolak.
Sebelumnya saya memohon maaf atas tulisan ini.
Saya tahu, banyak pebisnis yang mungkin akan menertawakan tulisan ini. Mungkin juga mencibir.
Saya pun tidak sok suci serta menghakimi mereka yang terpaksa harus memberikan komisi sehingga bisa memperoleh bisnisnya. Masalahnya, ini menyangkut bisnis yang kadangkala, terpaksa untuk dilakoni. Saya mengerti sekali sisi ini.
Jangan salah.Tulisan ini bukan untuk menghakimi moral siapapun.
Tapi, tujuan tulisan ini hanyalah untuk mengingatkan bahwa jika punya pilihan yang baik, cobalah memilih bisnis yang dimana kita tidak perlu mengorbankan prinsip-prinsip yang baik.
Jangan berbisnis dimana kita harus diipaksa menjual diri kita.
Jangan berbisnis dimana kita diharuskan untuk melacurkan diri kita (dalam arti fisik dan kiasan)
Jangan berbisnis dimana kita harus menggadaikan prinsip-prinsip kita.
Bukan karena nantinya neraka akan menanti kita. Bukan itu!
Sebab, saya bukan seorang ulama.
Tetapi, kalau kita sudah terbiasa berbisnis degan cara-cara seperti itu. Seperti yang telah saya katakan di atas…..Maka akibatnya, otot berbisnis kita yang sesungguhnya jadi tidak terlatih. Otak dan pikiran kita jadi sibuk mencari-cari cara berbisnis seperti itu terus-menerus. Mencari cara dimana ada perusahaan yang orangnya gampang diberi sogokan. Pikiran Andapun sibuk mencari bagaimana caranya memberi sogokan yang tidak ketahuan, yang membuat Anda dipilih. Pikiran Ada pun jadi sibuk: sogokan berapa ya? Bagusnya kasih berapa ya? Apa sogokan yang paling bagus kukasiin ya? Gimana caranya kenal orang yang membuat keputusan membeli itu dan gimana bisa menyogok orang itu? Nah, lama kelamaan pikiran bisnis kita pun jadi tidak berkembang diganti oleh kesibukan mencari-cari celah seperti itu. Ingatlah…
SEBAB KEMANA KITA MEMFOKUSKAN NIAT KITA, KESANALAH PIKIRAN KITA SETIAP HARI AKAN DIARAHKAN!
Padahal, lihat juga kedepannya…
Yang namanya “orang kunci” yang Anda berikan sogokan itu mungkin akan diganti. Bahkan, mungkin akhirnya ditangkap oleh KPK, gara-gara korupsi. Manajemennya pun akan berubah. Lantas, apakah gara-gara itu bisnis Anda juga harus terhenti lantaran orang kunci Anda sudah tidak ada?
Kalau bisnis Anda memang hanya mengandalkan orang kunci, maka “iya” bisnis Anda akan terhenti.
Tapi, kalau Anda mengandalkan produk serta servis Anda. Mungkin akan terganggu sejenak lantaran Anda harus membangun keyakinan lagi orang ini terhadap produk dan servis Anda. Namun, Anda tidak perlu terlalu cemas karena Anda tahu masih banyak perusahaan, organsiasi, klien, customer yang mau membutuhkan barang dan jasa Anda.
Dan di era pemberantasan korupsi seperti sekarang, memelihara mentalitas menjalankan bisnis berdasarkan hasil sogokan, bukanlah cara yang mudah lagi. Kelak, perusahaan, instansi dan lembaga akan makin ketat. Mereka juga makin berhati-hati. Jadi, kalau masih terus mengandalkan cara-cara sogokan untuk mendapatkan bisnis. Andapun mulai harus berhati-hati karena masanya akan lewat.
          Nah, mulai sekarang pikirkanlah nasib bisnis Anda dengan cara yang lebih produktif dan kreatif.
          Oya, satu hal lagi…
          Dengan cara ini pula, saya jadi amat menghargai klien-klien kami yang sudah lampau
maupun yang masih akan kita garap….
          Cobalah Anda tengok daftar klien-klien kami sekarang.
Ternyata banyak juga perusahaan yang betul-betul memiliki orang-orang yang bersih. Yang memilih vendornya bukan karena memberikan sogokan, tetapi karena merasa bahwa vendornya akan memberikan yang mereka inginkan, secara berkualitas!
Dan saya yakin…
Sebenarnya di luar daftar ini…
Ada masih bayak perusahaan yang bersih dan penuh integritas dalam menjalankan bisnis mereka. Dan itulah yang membuat mereka bertahan lama!


Salam Antusias!

Anthony “ADM” Dio Martin

Jumat, 13 September 2013

Jangan Lekas Iri Hati!

Jangan Lekas Iri Hati!


Iri hati itu membunuh.
Membunuh diri kita perlahan-lahan.
Namun, banyak yang tidak menyadari soal ini.
Baru-baru ini, saya diceritakan kisah tentang seorang karyawan yang merasa iri dengan kesuksesan bisnis bossnya. Lantas, ia pun mempengaruhi beberapa orang di perusahaan itu. Mulailah ia bermain “business dalam business” di perusahaan itu. Bersama dengan beberapa keryawan yang diajaknya, ia pun membangun kerajaan bisnisnya. Caranya sederhana, kalau customer merasa terlalu mahal, maka ia pun akan mengajukan produknya sendiri. Makin lama, ia makin berani. KIni, nyaris semua customer sekarang ditawarin dengan produknya. Jadi, ia betul-betul keenakan.  Bulanan mendapat gaji dari perusahaan, tetapi diluar itu, masih bisa mendapatkan untung banyak dari pelanggan yang membeli produk pribadinya. Tapi, kesalahan fatal mengakhiri semuanya. Suatu ketika, pelanggan yang dijualin produk pribadinya tidak ‘happy’ dengan kualitas barang yang diterimanya. Tapi, kemudian pelanggan itu complain ke perusahaan tempat ia bekerja. Maka, kasus “bisnis gelap” itupun terbongkar. Si karyawan itupun lantas diusir dari perusahaan itu.
Cerita pun berlanjut…
Si karyawan itu sudah merasa yakin bahwa ia akan bisa berhasil. Ia sudah kenal dengan para pelanggan. Tetapi, nyata bisnisnya tidak sukses-sukses amat. Masalahnya, ketika di perusahaan dulu, ia masih ditopang oleh nama besar perusahaannya. Tapi sekarang, perusahaan pribadinya bukanlah siapa-siapa diantara belantara bisnis yang begitu besar. Pelangganpun makin sepi. Dan akhirnya, si karyawan itu, bisnisnya cuma begitu-begitu saja.
Banyak kisah semacam itu terjadi.
Khususnya kisah iri dalam dunia bisnis.
Bahkan, dalam dunia bisnis, kisahnya bisa lebih kejam. Saya teringat dengan sebuah kisah di kampungku dulu. Gara-gara urusan bisnis, seorang pebinis menyewa seorang pembunuh untuk menikam rival bisnisnya. Rival bisnisnya tertusuk parah tapi si penusuk akhirnya ditangkap, lantas mengaku kalau ia hanyalah suruhan. Akibatnya, si pebisnis itu kemudian dijebloskan dalam penjara.
Ingatlah,…

DENGAN MENIUP MATI LILIN ORANG LAIN, TIDAK AKAN MEMBUAT LILINMU BERSINAR LEBIH TERANG
          
Di dalam bisnisku sekarang, juga penuh dengan urusan iri meng-iri. Terkadang, meskipun namanya bisa saja seorang trainer, tetapi trainer kan juga manusia! Jadi, sifat iri hati bisa sangat-sangat luar biasa besarnya. Dan lebih celakanya lagi, justru karena trainer dalah pembicara public yang punya massa, hal ini bisa dilontarkan kepada publik bahkan dimunculkan ke media sosialnya yang bisa dibaca ribuan orang. Ini pun membentuk opini orang.
          Tapi, ada suatu pelajaran tak terlupakan soal rasa iri hati yang saya pelajari dari seorang pembicara senior di negeri ini, Pak Gede Prama. Sampai sekarang, saya masih berterima kasih atas pelajaran sederhana yang pernah ia berikan pada saya dalam perjalanan karir saya sebagai trainer.
          Waktu itu, saya dengan beliau sedang menunggu untuk rekaman audiobook. Terus terang, saat itu, saya begitu groginya bertemu beliau. Pak Gede Prama sudah punya nama besar dan sudah dikenal dimana-mana. Saat itu, saya baru memulai karir dan sedang “grogi-grogi”-nya karena akhirnya, Gramedia Pustaka Utama setuju untuk membuatkan audiobook soal Kecerdasan Emosional. Dan pada hari rekaman yang sudah ditentukan, saya pun datang degan rasa “nervous” tapi sekaligus excited. Dan eh…disitulah, saya melihat Pak Gede Prama sedang menunggu pula. Sambil duduk disebelahnya, saya mengajak Pak Gede Prama ngobrol. Saya memulainya dari cerita bahwa saya pernah jadi panitia waktu ketika Pak Gede Prama diundang ke Astra, tempat saya bekerja di awal karir saya. Saya bercerita bahwa sebenarnya sudah pernah bertemu dengannya. Hal itu langsung mencairkan suasana. Dan obrolanpun berlanjut hingga saya mengajukan suatu pertanyaan,
“Pak, apakah Bapak merasa tersaingi nggak dengan munculnya banyak motivator atau pembicara-pembicara yang lebih muda?”
Tahu apa jawabnya?
          “Dik, kenapa harus merasa tersaingi. Ingatlah pekerjaan ini seperti kayak pasar malam. Kalau yang jualan di pasar malam itu hanya Gede Prama, pasar malamnya nggak akan rame. Tapi, kalau yang jualan itu ramai, pasti pengunjungnya juga akan banyak!”
Wow!
Jawaban yang tidak pernah akan kulupakan dan hingga kini menjadi filosofiku juga.
Hingga kini, saya betul-betul mengucapkan terima kasih buat Pak Gede Prama atas jawabannya itu yang menghapus semua rasa iri hatiku. Betul-betul seperti terhapuskan!
Makanya, ketika ada seorang trainer lain yang menuliskan status bahwa dia sedang mengajar di perusahaan ini dan itu, ataupun sedang berhasil mengadakan suatu seminar yang sukses dengan ribuan orang. Ataupun, mendapatkan proyek training di perusahaan ini sekian angkatan, saya tidak merasa iri hati. Sama sekali tidak iri. Juga bukan rasa kagum yang berlebihan. Hanya perasaan damai yang netral. Dan itulah yag membuat saya bisa mengucapkan dengan tulus, kalimat seperti “Congratulations for your very successful seminar” di media social teman trainer yang sukses tersebut. Dan itu, bisa saya ucapkan dengan sangat-sangat tulus!
Mengapa? Alasannya sederhana. Karena saya merasa tidak perlu merasa iri. Karena saya tahu bahwa Tuhan sedang memberikan berkat rejeki baginya (kan dia juga punya puluhan karyawan, anak istri, bisnis yang harus dihidupinya?). Karena saya pun tahu, rejeki itu melimpah dan masih ada rejeki lain yang tersedia buat saya. Karena saya tahu, tatkala saya merasa iri hati, energi saya menjadi negatif dan malahan jadi nggak kreatif. Karena saya tahu, mungkin trainer itu sedang membuka “pasar malam” yang akhirnya suatu ketika pengunjungnya, akan mampir ke stand saya pula. Karena saya tahu pula…bahwa daripada merasa iri lebih baik saya bertanya, “Bagaimana caranya saya tidak ketinggalan dan bisa belajar dari kesuksesannya?”
Karena itulah, saya selalu berkata….

DARIPADA MERASA IRI HATI DENGAN KESUKSESAN SESEORANG YANG AKHIRNYA MEMBUATMU JADI NEGATIF, COBALAH BERTANYA BAGAIMANA CARANYA KAMU BISA MENGEMBANGKAN KEMAMPUANMU AGAR BISA SEPERTI DIA?

Atau, kalau kita bukan pebisnis, tetapi seorang karyawan. Lebih baik kita bertanya…

DARIPADA SAYA MERASA IRI DENGAN BOSS-KU YANG SUKSES. BAGAIMANA CARANYA,AGAR SAYA BISA BELAJAR SOAL KUALITAS BAGUS DARI DIRINYA. LALU, SELAMA SAYA MASIH BEKERJA UNTUKNYA BAGAIMANA SAYA MENGEMBANGKAN DIRI SAYA DENGAN MEMBERIKAN DIRI SAYA YANG SEBAIK-BAIKNYA SEHINGGA (KALAU DIA BOSS YANG WARAS) MAKA NASIBKU JUGA MENJADI LEBIH BAIK DISINI?

          Dengan demikian, kita tidak perlu digerogoti rasa iri yang mendalam terhadap kesuksesan kompetitor bisnis kita. Bahkan, secara umum, kita pun tidak perlu menjadi iri dengan kesuksesan siapapun. Sebab….

KESUKSESAN ORANG LAIN, TIDAK AKAN MERAMPAS APAPUN DARI DIRI KITA!
          
Sebab Tuhan sudah memberikan jatahnya bagi setiap orang. Tugas kita hanyalah mengembangkan dan melakukan yang terbaik.
          Saya pun jadi ingat lagi kisah yg sering saya ceritakan ini,
          Ada seorang atlit remaja yang mengikuti pertandingan lari. Ia pun kalah dan kembali ke ruangan dengan lunglai, juga dengan muka kesel. Si pelatihnya yang melihatnya berkata, “Kelihatannya kamu sangat kesel dengan hasilnya!”.
“Iya Pak Pelatih. Tapi lebih keselnya lagi adalah si juara satu itu, sebenarnya sempat menyenggolku dan suara penonton begitu menganggu. Dan rasanya, si juara satu itu mau kugampar saja karena dia sudah curang!”
          Lantas, si pelatih itu mengajak di remaja itu ke lapangan tanah merah berpasir. Di situ, ia menggambar sebuah garis.
“Nah, kalau itu adalah garis lawanmu, katakanlah bagaimana caramu agar garis lawanmu ini bisa tampak menjadi lebih pendek?”
“Ha? Lebih pendek? Gampang aja. Ya dihapus aja kayak gini” kata si remaja itu sambil menghapus garis itu dengan kakinya.
“Pintar sekali!” kata pelatihanya sambil melanjutkan,
“Tapi Nak. Ada satu lagi cara yang bisa kamu lakukan yakni dengan membuat garis lain, yakni garis dirimu sendiri, yang sedemikian panjangnya sehingga garis lawanmu menjadi tidak ada artinya!”
          Nah, belajarlah dari si pelatih itu.
          Belajarlah bahwa kita tidak perlu menghancurkan, memusuhi, mensabotase, ataupun bahkan menghancurkan orang yang kita anggap sukses.
          Intinya, belajarlah untuk tidak perlu merasa iri secara negatif.
          Kalaupun, kamu masih merasa iri, cepat-cepatlah bertanya yang positif, “Bagaimana ya caraku bisa memiliki kemampuan seperti dia yang sukses itu?”
          Mulai sekarang, tanyakanlah pertanyaan yang lebih positif dan…kembangkan garismu sendiri!

          Nggak perlu iri hati!

Salam Antusias!

Anthony Dio Martin

Kamis, 05 September 2013

Kisah Andie Mackie: Akhir Kehidupan Yang Berkesan!


Andy Mackie adalah salah seorang penyanyi music country. Dia menderita sakit yang parah. Setelah 9 kali operasi, dia nggak tahan lagi dengan 15 pengobatan yang dokter lakukan kepadanya. Dokter pun sudah memberikan vonis maut untuk  penyakitnya. Lantas, sesuatu yang luar biasa ia lakukan. Daripada membelanjakan uangnya untuk obat, akhirnya Andy si “manusia harmonica” ini membeli 300 harmonika untuk dibagikan. Dan sesuatu yang menarik pun terjadi. Andy tidak meninggal. Jadi, bulan berikutnya ia membeli lagi harmonika yang ia bagikan dari sekolah ke sekolah. 11 tahun ia lakukan dan ada sekitar 16,000 harmonika yang telah ia sumbangkan. Dan Anda tahu? Andy Mackie akhirnya meninggal di usia 73 tahun.

Sebuah pelajaran menarik dari orang yang mau meninggal dan sekarat, seperti si Andy Mackie ini. Pada detik-detik terakhir dalam hidupnya, justru ia memberikan hidup dan waktu serta “uang”-nya untuk orang lain. Tampaknya, itulah yang membuat Tuhan bermurah hati padanya pula dengan memberinya umur yang masih panjang. Tapi saya rasa, bukan itu point terpentingnya. Point terpentingnya adalah pada saat kita terpuruk, sakit dan bermasalah, seringkali kita jadi ‘menyendiri’, meratapi serta menangisi penderitaan kita. Kita ingin seluruh dunia meratapi kita. Tapi, yang paling luar biasa adalah mereka yang tetap tegak berdiri, tetap positif dan memberikan sisa-sisa energi terakhirnya untuk membantu, menolong dan memberikan “kepingan terakhir” dirinya bagi orang lain. Usia lanjut adalah bonus ektra dari Tuhan. Tetapi, kalaupun tidak mendapatkan bonus usia ekstra, Andy akan meninggal dengan bahagia, tatkala menyadari di akhir hidupnya, ia masih sempat membuat orang lain tersenyum dengan apa yang dimilikinya. Terus terang, inlah akhir kematian yang saya inginkan. Tidak dengan meratap melainkan dengan senyum, karena di saat-saat terakhir masih bisa membuat orang lain bisa tersenyum pula.

Salam Antusias!
-Anthony Dio Martin
www.hrexcellency.com
@anthony_dmartin


Sabtu, 31 Agustus 2013

HATI-HATI….SUKSES YANG TANGGUNG!


HATI-HATI….SUKSES YANG TANGGUNG!


Mark Chagall, ia dianggap sebagai salah seorang seniman besar yang pernah ada di abad ke 20. Dia lahir dari keluarga yang amat miskin di Rusia. Nasibnya kemudian membawanya ke Paris. Dan disanalah ia membangun reputasinya hingga diakui di seluruh dunia. Namun, yang luar biasa, Majalah Newsweek mengatakan, setiap kali pengemis atau gelandangan yang membutuhkan kerja mencarinya, ia akan berusaha memberi mereka pekerjaan. Mengapa? Ketika ditanya, ia mengatakan karena ia tahu apa artinya kemiskinan yang pernah ia jalani dan karena itulah ia berusaha membantu mereka yang miskin, setelah ia berhasil. Namun, ada satu kalimat menarik yang dikatakan Mark Chagall yang menarik, “Hal paling buruk adalah ketika seseorang terlalu awal mendapatkan suksesnya…tapi sebenarnya ia baru mendapatkan sedikit sukses, sedikit uang, sedikit kepuasan. Tapi, orang ini sudah terlanjur jadi sombong. Akibatnya, kesuksesan yang sedikti dan tanggung ini, justru menghambat dirinya meraih kesuksesan berikutnya!”



Berulang kali, kita melihat orang yang sukses dan menjadi sombong.  Bahkan, ada yang belum sukses saja, sombongnya sudah selangit. Apalagi kalau udah sukses? Sampai-sampai, kita berpikir kalau dia sukses, lagaknya kayak apa?



Nah, itulah yang membuatku kali ini tertarik membicarakan soal kesuksesan yang tanggung. Orang yang terlalu dini, atau terlalu cepatmeraih suksesnya.  Dan bicara soal ini, tiba-tiba pikiranku jadi teringat kisahnya Michael Jackson yang sudah menjadi terkenal sejak masih kecil yangkemudian popular dengan sebutan “The Jackson Five”.  Sejak kecil, ia telah terkenal. Dan sejak itulah, mempertahankan serta menciptakan kesuksesan yang lebih baik lagi, menjadi tantangan baginya. Tak heran, kita mendengarkan banyak kisah kehidupan Michael Jackson yang aneh, hingga kematiannya yang dianggap masih menciptakan misteri yang tak terjawab. Belum lagi, kalau kita mendengar kisah idola cilik kita dimasa kita masa kecil yang tiba-tiba namanya lenyap, dan tahu-tahu ketika diberikan, malah terkena narkoba, dll. Sungguh mengenaskan rasanya, jika kita mendengarkan bintang-bintang idola cilik kita, yang setelah besar justru menghancurkan hidupnya sendiri seperti itu.



Makanya, tidak salah kalau dikatakan begini: Berhati-hatilah dengan kesuksesan yang tanggung, ataupun sukses yang terlalu cepat.  Kadang, kesuksesan yang tanggung, justru jadi  penghambat kesuksesan berikutnya. Masalahnya, tatkala sudah jadi sukses, orang mulai terlalu puas diri. Mereka jadi sombong, lupa belajar, tidak mau terima masukan dari sekelilingnya. Juga, tidak mau melihat perubahan di sekelilingnya. Dan dari situlah awal kehancuran seseorang. Jadi, kadang saya kasihan dengan anak yang terlalu cepat suksesnya. Komentar saya, “Pasti akan menjadi beban hidupnya anak ini sepanjang hidupnya untuk trus menjaga reputasi dan suksesnya. Itu nggak mudah!”. 



Karena itu, saya menyarankan kita juga berdoa secara khusus. Berdoalah bukan hanya supaya kamu mampu menanggung kesulitanmu, tetapi juga berdoa Tuhan memberi kesuksesan yang mampu kau tanggung! Ini serius. Rasanya, nggak pernah ada yang mengajarkan doa seperti itu sepanjang hidupku. Tetapi, saya sungguh belajar…. kesuksesan yang pas perlu didoakan. Kadang, saya pikir Tuhan tidak memberikan kesuksesan yang kita minta, rejeki yang kita inginkan ataupun karir yang kita dambakan, karena kita memang belum siap, kita belum matang. Ketika itu terlalu dipaksakan, hasilnya adalah pribadi yang tanggung.  Kesuksesan yang tidak matang, menciptakan pribadi yang dalam bahasa prokemnya kita bilang….”mentang-mentang”,” sok” dan “belagu”.



Hari ini, bersama denganku, saya ingin mengajak Anda berdoa bergini, “Tuhan berikanlah kepadaku sukses yang layak buatku. Sukses yang mampu kutanggung.  Agar aku tidak menjadi iri dengan kesuksesan orang lain. Agar ketika suksespun, aku tidak menjadi congkak dan tinggi hati yang membuatku lupa diri, lupa keluarga dan lupa dari mana aku berasal!”

Salam Antusias!

Anthony "ADM" Dio  Martin

Minggu, 18 Agustus 2013

BAGAIMANA SIKAP TERBAIK SAAT MEMBACA DAN MENDENGAR BIOGRAFI ORANG LAIN?

BAGAIMANA SIKAP TERBAIK SAAT MEMBACA DAN MENDENGAR BIOGRAFI ORANG LAIN? 
(SEBUAH CATATAN SOAL BUKU “KISAH ORANG HEBAT: DARI MATA KAKI KE MATA HATI”)

Sebuah buku biografi diterbitkan. Judulnya menarik, Kisah Orang Hebat: dari Mata Kaki ke Mata Hati”. Buku ini dikompilasi oleh seorang rekan jurnalis dan penulis artikel yang saya kenal yakni Eman Dapa Loka.  Di dalam buku ini terdapat banyak kisah orang sukses yang luar biasa, yang saya pernah baca. Ada kisah Dewa Bujana, Romo Magnis Suseno, Franciscus Welirang, dan masih banyak lagi.



Eh, yang membuatku bangga dan sekaligus juga ada rasa malu, adalah kisah biografi saya pun diceritakan dimasukkan didalamnya dengan judul "Jejak Langkah Sang Motivator". Entah apa yang membuat rekan Eman Dapa Loka menganggap kisah saya layak dimasukkan di dalam buku ini. Yang jelas, terus terang dan jujur, dibandingkan dengan orang-orang hebat yang ada di buku ini, apa yang kuraih dan kukontribusikan, kelihatannya belum ada apa-apanya. Apalagi, untuk skala masyarakat dan juga untuk bangsa. Ini jujur lho!


Saya memang punya belasan buku yag kutulis. Punya lembaga HR Excellency yang membina sumber daya manusia, khususnya di korporat. Sangat antusias soal EQ, kecerdasan emosional. Senang memotivasi dan menulis dimana-mana. Tapi, lebih dari itu, rasanya belum banyak yang kulakukan yang tampaknya betul-betul berkontribusi langsung buat masyarakat kita. Jadi, itulah yang membuatku merasa agak malu, dipersandingkan dengan nama-nama besar yang sungguh diakui kontribusinya!

Yang kutahu, kisah masa kecilku memang getir. Banyak kisah sedih, yang mungkin akhirnya menarik untuk diceritakan. Tipikal kisah yang bagus untuk cerita-cerita motivasi di kelas-kelas seminar. Cerita yang bisa membuat baik yang bercerita maupun yang mendengar, meneteskan air matanya. Tapi, lebih dari itu, tampaknya masih banyak yang masih harus kukontribusikan, untuk dianggap ORANG HEBAT. Paling nggak, itulah ukuranku!

MENDENGARKAN KISAH SUKSES ORANG MEMANG BISA JADI MOTIVASI BUAT KITA, TAPI ADA PULA  BAHAYANYA. BAHAYANYA, ITU ADALAH KISAH SUKSES MEREKA, SEMENTARA KITA PUNYA REALITAS DAN LATAR YANG BERBEDA. 

Makanya, terus terang saya bukanlah termasuk orang yang suka menceritakan kisah masa lalu saya untuk memotivasi orang lain. Hanya dalam program tertentu dan khusus, saya menceritakan masa lalu saya. Tetapi, saya sadar. Tiap kali saya selesai menceritakan kisah saya, saya selalu ingin berkata, 
“Saya menceritakan kisah hidup saya yang getir, bukan untuk dikagumi. Tapi, ingin mengingatkan bahwa apapun latar belakangnya, kita punya kesempatan untuk lebih baik. MASA DEPAN KITA TIDAK HARUS SAMA DENGAN MASA LALU KITA! Kalian punya masa lalu masing-masing, jadilah kisah hidup kalian, akhirnya pantas diceritakan dengan akhir yang membahagiakan!”

Saya mengerti sekali. Pesertaku, audiensku, orang yang hadir di seminarku adalah orang yang berbeda latar belakang, situasi dan kondisinya. Makanya, sebenarnya hanya sekedar menceritakan kisah hidupku, tidak akan punya punya banyak dampak perubahan buat mereka. Kecuali……kecuali, mereka bisa diajak untuk mengambil intisari penting dari kisah masa lalu itu. Makanya, saya tidak suka menceritakan masa laluku hanya sekedar untuk diketahui. Buat apa? Kecuali, hanya membuat orang kagum, lanta kemudian bingung (masalahnya, kalau mereka kritis, mereka bisa berkata, “Ya Pak Anthony. Menarik sekali kehidupan masa lalu Bapak yang pahit. Lalu, buat saya yang masa lalunya berbeda dengan Bapak, apa gunanya buat saya?”

Di sini pula, saya ingin memberikan tips, lain kali kalau mendengarkan kisah biografi  kehidupan orang sukses. Bagaimana bisa menyikapinya dengan lebih positif dan mengambil pembelajaran yang berguna buat kehidupan kita? Ini tips-nya dari saya:

1. SIKAP POSITIF. Jangan ekstrim kiri atau ekstrim kanan. Jangan langsung mencibir ataupun lansgung terkagum-kagum. Ingat, itu adalah kisah mereka. Good to know, good for your understanding. Janganlah silau. Tapi juga, jangan antipati. Hargai kisah perjalanan orang lain. Ingatlah, RESPECT! Bersikap menunduk, dan respek adalah kata yang paling baik, menyikapi kisah-kisah orang lain.
2. JADIKAN INFORMASIMU. Dari kisah mereka yang panjang, tanyakan: APAKAH BAGIAN DARI KISAH MEREKA ITU YANG MENARIK YAKNI YANG MENYENTUH PERASAANMU? Ingatlah kalau perlu catat kisah itu. Lalu, jadikanlah sebagai referensi buatmu.  Paling tidak kisah orang lain, bisa jadi bahan obrolanmu, referensi saat kamu bercerita, menulis ataupun untuk menasihati orang lain (termasuk menasihati anak kita lho!). Jadi, jadikanlah sebagai referensi di pikiranmu. Ngomong-ngomong, dalam obrolan saya (juga di konseling saya), saya sering menceritakan potongan biografi kehidupan orang. Kadang, ini bisa jadi bahan obrolan yang menghidupkan suasana juga lho? (Pernah ngalamin?)
3. TEMUKAN PATTERN-NYA. Dari kisah perjalanan hidup orang, belajarlah untuk mengerti polanya. Artinya, coba kamu baca dan selidiki kisahnya. Apa yang membuat mereka akhirnya bisa sukses. Apakah karena faktor KEBERUNTUNGAN? Karena factor KELUARGA yang mendukukung? Karena kualitas KARAKTER dan KEMAMPUAN dalam DIRI-nya? Apa lagi yang membuat orang ini unik?
4. WHAT QULITY THEY HAVE THAT YOU DON’T? Ini pertanyaan uji imajinasi yang menarik! Coba deh, kalau kamu bayangkan kamu dalam situasi orang tersebut dan menjadi orang tersebut dalam kehidupan dan masa lalunya, apakah kamu akan jadi sesukses dia? Kalau tidak mengapa? Apa yang membuatmu tidak seperti dia? Apa yang kurang dari dirimu? Jawaban atas pertanyaan itu bisa jadi pembelajaran penting buatmu!

Akhirnya, thanks untuk Mas Eman Dapa Loka yang menuliskan kisah biografi saya dibukunya. Tapi, saya merasa masih perlu kerja ekstra untuk sibeut HEBAT. Tapi, sungguh, harapan saya buat teman dan rekan-rekan saya,
“SEMOGA DENGAN BELAJAR DARI KEHEBATAN ORANG LAIN, KITA BISA MENEMUKAN KEHEBATAN DALAM DIRI KITA SENDIRI”

Rabu, 14 Agustus 2013

Launching MWV V.4.0

MWS Indonesia

Journey To Success - Anthony Dio Martin

QTV- EQ untuk Wanita - Ibu Mooryati Soedibyo - Anthony Dio Martin

EQ - Leason From Barrack Obama

QTV-2009 EQ Success Lesson - Bp Rudy Hadisuwarno - Anthony Dio Martin

QTV_How to coach your employee - Anthony Dio Martin

Kelola Marah dengan Anger Management - Anthony Dio Martin

EQ Strategi bagi wirausahawan pemula - Anthony Dio Martin

EQ Goes To Campus

Testimoni Alexandra A. Aprilina - ELT MWS Indonesia

Testimoni Training QT Quantum Teaching - HRExcellency

Testimoni Training EQM Emotional Quality Management HRExcellency

Apa Kata Mereka Tentang MWS ?

Selasa, 13 Agustus 2013

Kelola Marah dengan Anger Management - Anthony Dio Martin

Kelola Marah dengan Anger Management - Anthony Dio Martin

Kelola Marah dengan Anger Management - Anthony Dio Martin

Kelola Marah dengan Anger Management - Anthony Dio Martin

Testimoni Training Departemen Keuangan oleh HRExcellency

Kamis, 08 Agustus 2013

LEBARAN DAN TRADISI PULANG KAMPUNGKU

Hari Lebaran. Yeah!
Waktu terus berlalu dan kini memasuki Lebaran di pertengahan tahun 2013.
Saya baru membuat rekaman di SmartFM, dengan membahas soal “Pulang Kampung”.  Ini lagi masa-masanya orang pulang kampung. Kenapa bahas soal Pulang Kampung? Memang, sebisa mungkin saya mengkaitkan isi siaran radio di SmartFM yang saya bawakan (tiap Senin pagi) dengan peristiwa dan kejadian aktual yang terjadi . Nah, kali ini kaitannya dengan Lebaran adan acara tahuan yang banyak dilakukan orang, mudik atau PULANG KAMPUNG. Bayangkan saja, menurut Statistik, tiap Lebaran, yang pulang mencapai 20 juta orang di Indonesia. Wah!

Kalau kita perhatikan di Indonesia ini, tradisi Pulang Kampung itu sendiri, bukan hanya tradisi yang merayakan Lebaran. Yang tidak merayakan Lebaran pun, jadi ikut-ikutan pulang kampung. Paling tidak, pulang untuk merayakan liburan bersama dengan orang-orang yang paling dekat di hati mereka.
Karena itulah, sewaktu di Radio SmartFM minggu ini, saya memilih judul “PULANG KAMPUNG (The Journey To You True Self” karena menurut saya….PERJALANAN PULANG KAMPUNG, SEBENARNYA PUNYA MAKNA PERJALANAN DIRI KITA UNTUK MELIHAT KEMBALI DIRI SEJATI KITA.

Logikanya begini…
Saat pulang kampung, kita bukan saja bertemu dengan orang-orang yang kita kasihi, tetapi juga bertemui dengan tempat dan situasi yang pernah membesarkan kita. Banyak yang bisa dikenang! Saya sendiri punya tradisi pulang kampung. Paling tidak, saya selalu menyempatkan diri mengunjungi makam ayah saya di Singkawang, Kalimantan Barat. Dan inilah tradisi yang saya lakukan. Saya datang ke makam sambil membawa bunga, berdoa bagi ayah saya. Lalu, biasanya dengan hening saya mulai membayangkan itulah rumah ayah saya. Saya pun mulai membayangkan ayah saya disitu, menerima saya dengan ramah dan senyumannya (sama seperti senyum di fotonya). Lalu, saya mulai akan cerita. Menceritakan berbagai kejadian yang telah lewat. Ini seperti PROGRESS REPORT.  Laporan ke boss! Eh ngomong-ngomong, ini bukan tradisi agama manapun. Ini juga kebiasaan adat dimanapun. Ini cara saya secara personal, mengenang dan menghormati ayahku. Ini cara saya menterapi diri saya, mengisi kekosongan yang saya alami, soal figur ayah!

Masalahnya, saya telah kehilangan ayah saya sejak rusia 4 tahun. Saat itu, saya tak punya memori apa-apa tentangnya. Rasa kangen dan kehilangan figur ayah baru saya rasakan tatkala saya memasuki SD. Saat itu, saya bahkan pernah marah kepada Tuhan, “Tuhan. Mengapa ayah saya yang diambil? Bukan ayah teman-teman saya yang lebih kaya?”. Namun, sekarang tahu Tuhan ternyata punya ide yang menarik, dibalik apa yang saya anggap musibah ini.

Saat ayahku meninggal, keluarga jadi sulit.  Khususnya secara ekonomi. Mama-ku bekerja dengan sangat keras demi ke-8 anak-anaknya. Thanks untuk Mama-ku. Mama luar biasa yang mengajarkan arti TANGGUNG JAWAB yang luar biasa. Kakakku pun jadi bekerja. Thanks juga untuk kakak-kakakku semuanya yang mengajarkan bagaimana menjadi kakak yang peduli dengan adik-adiknya.  Kami punya tradisi. Sang kakak, harus “menggendong” dalam arti membantu adiknya untuk berhasil.  Sebenarnya, ini agak nggak adil! Masalahnya, saya adik yang paling kecil. Mereka semua punya kewajiban untuk membantuku. Sementara, aku nggak punya kewajiban pada adikku (kan nggak punya adik lagi?). Tapi hebatnya, tidak sekalipun mereka minta balas budi. Nggak sekalipun! Jadi, sayalah yang harus belajar tahu diri! Alasannya, karena sudah dibantu dan ditolong mereka. Karena itulah, tradisi pulang kampungku adalah tradisi menghormati kakakku, Mamaku dan juga mereka-mereka yang telah menjadikanku hingga sekarang!

ORANG YANG PUNYA SUKSES SEJATI, TAHU BERTERIMA KASIH. TAHU MENGHARGAI DAN MENGHORMATI JASA-JASA ORANG YANG TELAH MENJADIKANNYA HINGGA SEPERTI SEKARANG!
   
Saya jadi ingat buku karya seorang sahabatku, Philips Triatna, seorang yang sukses di MLM dan juga seorang pembicara. Judulnya “Kembali Berdetak”. Ini buku yag filosofinya menakjubkan! Thanks to Phillips! Dalam buku ini, Philips mengangkat tema “HARGAILAH ORANG-ORANG YANG PERNAH BERJASA DALAM KEHIDUPANMU”. Bahkan buku ini berkisah soal bagaimana Phillips melakukan napak tilas, balik kampung, untuk mengucapkan terima kasih pada semua orang yang berjasa dalam hidupnya. Nah, pernahkah Anda melakukan napak tilas dan mengucapkan terima kasih pada mereka yang pernah berjasa dalam hidupmu.  Saya beberapa kali melakukannya. Dan mereka-mereka yang saya kunjungi, betul-betul sudah dimakan usia tapi kita bisa lihat….betapa senangnya sekali! Hanya saja, tidak seperti Phillips yang betul-betul melakukan dengan semua orang yang berjasa, saya masih punya daftar beberapa orang yang belum saya kunjungi. Dan, saya masih punya janji untuk mengunjungi mereka!

SEBENARNYA, MEREKA YANG PERNAH BERJASA DALAM HIDUPMU, TIDAK MENGHARAPKAN BALAS JASA APAPUN. TATKALA MERLIHAT DIRIMU SUKSES, ITULAH KEBAHAGIAAN MEREKA. DAN ITULAH KEBAHAGIAAN YANG BISA KITA PERSEMBAHKAN BUAT MEREKA. PALING TIDAK, APA YANG MEREKA LAKUKAN DALAM HIDUPMU, JADI TIDAK SIA-SIA!

Dan di lebaran ini, saya pun akan pulang ke kampung halamanku di Kalimantan. Pulang bertemu dengan orang-orang yang berjasa dalam hidupku. Pulang menemui tempat dan situasi dimana aku dibesarkan. Tempat yang menempaku, tempat yang mengajariku dengan pelajaran-pelajaran kehidupan yang bermakna.

Nah, bagaimana dengan yang tidak punya kampung?
Gampang. Saranku, ambil album fotomu. Lihatlah! Atau, lebih menarik kalau bisa, kunjungilah tempat-tempat masa kecilmu. Tempat bermainmu dulu. Ingat kembali, bagaimana kesulitan, kekonyolan, kenakalan, juga kegembiraan masa lalumu. Itulah “KAMPUNG”-mu. Sejarahmu! Sejarah yang pernah membentukmu.

Jadi sarankan, buat yang jarang melakukannya. Ambil waktu untuk pulang kampung. Itulah perjalanan melihat diri sejatimu! YOUR JOURNEY TO YOUR TRUE SELF! Enjoy!


Selamat Idul Fitri


ADM (Anthony Dio Martin)

Selasa, 06 Agustus 2013

MENGAPA SAYA RAJIN MEMBERIKAN TESTIMONIAL BAGI BUKU ORANG LAIN

Barusan, ada sebuah buku baru yang saya berikan testimonial. Atau, ada yang menyebutnya dengan istilah endorsement. Sebenarnya, sama saja. Intinya, kata pengantar singkat berisi komentar ataupun apresiasi terhadap buku yang telah ditulis oleh seseorang. Biasanya, endorsement semacam ini terletak di depan ataupun di belakang buku tersebut. Bentuknya? Kata-kata pujian ataupun komentar untuk buku tersebut! Nah, setiap kali ada rekan atau sahabat, baik yang sudah saya kenal, maupun yang sama sekali belum saya kenal meminta saya member endorsement untuk bukunya….saya selalu ANTUSIAS melakukannya.

Nah, mengapa saya begitu antusias untuk memberikan endorsement positif untuk buku-buku baru karya sahabat-sahabatku? Ini, ada kisahnya.

Semuanya berawal di tahun 2002. Saat itu, untuk pertama kali saya hendak menerbitkan buku melalui Gramedia Pustaka Utama (GPU). Itu adalah buku keduaku. Buku yang diterbitkan lewat penerbit berkualitas. Saya merasa grogi dan cemas! Nah, pihak produksi GPU yang waktu itu dipimpin Bp.Wandi S. Brata, memberi kesempatan pada saya untuk mencari orang yang bisa memberikan endorsement bagi buku saya. Eh, ngomong-ngomong, sedikit intermezzo saja, saya juga ingin lho menghaturkan “TERIMA KASIH” juga pada Pak Wandi S.Brata. Tahukah Anda? Beliaulah salah satu orang yang pertama kali begitu percayanya pada saya hingga saya jadi ikut-ikutan pede dengan bukuku. (Pernah kan Anda bertemu dengan orang yang begitu percaya pada diri Anda hingga Anda jadi terbakar rasa pede Anda?) Nah, itulah Pak Wandi ini. Buku-buku saya akhirnya bisa terbit di Gramedia, berkat Pak Wandi, yang rendah hati, antusias dan juga positif! Itulah testimonial saya tentang Pak Wandi ini!

Nah, kembali ke kisah saya. Akhirnya, ada salah seorang terkenal di Indonesia yang mintakan endorsement-nya. Eh, lebih baik nama dan identitasnya saya sembunyikan ya (soalnya, nggak terlalu penting menurutku). Nah, karena masih culun dan belum tahu banyak soal meminta endorsement, sayapun menulis email panjang meminta kesediaannya memberikan endorsement. Tapi, apa balasannya? Saya mendapat balasan kalimat yang negatif isinya. Menurutnya, buku saya bisa menimbulkan salah persepsi! Dan setelah memberikan kuliah panjang lebar, intinya ia menolak dengan tegas untuk memberikan endorsement buat bukuku. Menurutnya bukuku “biasa-biasa saja” dan tidak luar biasa!

Saya merasa tertampar. Buku itu, tidaklah ditulis dengan mudah. Setahun lebih saya menyelesaikan buku ini. NAMUN, DALAM HIDUP INI KITA MEMBUTUHKAN ORANG YANG TIDAK SETUJU ATAUPUN MENCELA, ATAUPUN MENGKRITIK KITA, UNTUK MEMBUAT KITA TERSADAR DAN LEBIH MAJU!

Sejak itu saya punya dendam. Dua dendam. Dendam pertama, untuk menunjukkan bahwa kulaitas isi buku ini bukan biasa-biasa saja. Kedua, dendam dalam bentuk sebuah janji, “KELAK KALAU AKU SUDAH SUKSES SEBAGAI PENULIS. TIDAK PERNAH SEKALIPUN, AKU AKAN MENOLAK ORANG YANG MEMINTA ENDORSEMENT KEPADAKU. BAHKAN AKU AKAN MEMBERIKAN YANG TERBAIK PLUS DOAKU AGAR BUKU-BUKU ITU BISA MENJADI BEST SELLER!”

Dan itulah yang kini kulakukan.
Setiap kali aku bisa memberikan endorsement-ku kepada rekan-rekan sahabatku yang menuliskan bukunya, dengan tersenyum saya seolah-olah mengepalkan tanganku dan bilang, “Yes!”. Satu dendamku terbalaskan!

Sebenarnya bukan itu melulu sih alasannya. Salah satu, alasan yang lainnya adalah karena saya pun BERTERIMA KASIH kepada banyak penulis, motivator, pengusaha dan orang-orang sukses lainnya yang sempat memberikan testimonial di bukuku. Jadi, sebenarnya saya pun sedang membalas kebaikan mereka, dengan memberikan testimonial saya kepada orang yang lain. Itulah sistem PAY IT FORWARD. Intinya, membalas kebaikan hati seseorang, kepada orang lain yang kita jumpai. Mereka aja mau meluangkan waktu untuk memberikan endorsement dan testimonial yang positif, mengapa saya harus menolak untuk melakukannya buat orang lain? JADI KETIKA KITA MENERIMA KEBAIKAN DARI SESEORANG, KITA SEBENARNYA PUNYA TUGAS UNTUK MELANJUTKAN KEBAIKAN ITU KEPADA ORANG LAIN!

Selain itu, ada sisi penting lainnya!
Begini lho. Saya sangat mengerti sekali psikologis orang yang pertama kali menulis buku. Masih deg-degan, dan ibarat orang yang ingin melahirkan sesuatu buat dunia. Tapi, kebayangkah kalau buku ini dibaca oleh seseorang yang dia anggap role model dan dimintain komentarnya. Tapi, komentar yang muncul adalah komentar negatif?  Bagaimana rasanya? Dunia serasa mau runtuh! Makanya, karena saya sendiri pernah dalam situasi itu. Sayapun sadar, justru para penulis yang melahirkan buku ini harus dimotivasi, didorong bahkan DIDOAKAN supaya bukunya sukses!  SEBUAH BUKU YANG SUKSES, BERARTI BUKU ITU DIANGGAP PUNYA PENGARUH YANG POSITIF BAGI PARA PEMBACANYA! DAN SEBUAH BUKU, PASTI LEBIH PUNYA BANYAK SISI MANFAATNYA! KITA HARUSNYA BERGEMBIRA UNTUK SEBUAH BUKU YANG BISA JADI BEST SELLER!

Nah, sekarang Anda mengerti bukan mengapa saya jadi begitu ANTUSIAS untuk memberikan kata-kata endorsement saya pada buku-buku yang baru akan lahir.

Oya, satu hal lagi….SEKILAS INFO!
Tahu nggak, bagaimana akhir dari riwayat buku saya yang sempat ditolak dan dianggap “biasa saja” oleh si orang terkenal itu?
Pertama, buku itu menjadi salah satu buku  best seller-ku. Dan yang paling luar biasa, isi buku itu sampai sekarang sudah ratusan kali diseminarkan dan masih terus diseminarkan samapi sekarang. Dan rasanya sudah ratusan juta rupiah yang saya peroleh dari ide buku tersebut! So, buku itu ternyata tidaklah “biasa-biasa saja”.  Pasar ternyata menyukainya!

Dan satu info lagi....saya sendiri tidak pernah DENDAM kepada si orang terkenal tersebut. Justru, saya amat BERTERIMAKASIH KEPADANYA. Niatnya sebenarnya baik. Dan justru ada pelajaran berharga yang aku dapatkan darinya. Jadi, dalam lubuk hati kecilku....saya berterima kasih padanya!


Salam Antusias!

ADM (Anthony Dio Martin)