Selasa, 19 Agustus 2014

Psikologi Penipuan: “Mengapa Orang Bisa Mudah Ditipu?”



Saya betul-betul kaget. Dia seorang trainer. Dia berpendidikan. Orangnya sangat kritis, cemerlang. Dia sahabatku. Tapi ketika dengan lesu dia mengatakan bahwa dirinya tertipu hampir 7 juta, saya nyaris tidak percaya? Modul penipuannya gimana? Temenku mulai cerita. Awalnya dia menerima email dari seseorang yang konon berasal dari Afrika. Konon menurut email ini, orang Afrika iu mencari orang yang bisa menyimpan uangnya. Plus cerita lengkap dengan link kejadian di email. Dengan data cukup meyakinkan, merekapun berkomunikasi. Awalnya, temen trainer saya ini rada sangsi. Tapi keingintahuannya ternyata menjebaknya. Komunikasi mereka makin mendalam dan akhirnya, temen saya ini bersedia membantu menampung uangnya. Ia pun dijanjikan uang. Tapi, inilah kesalahan terbesarnya…si temen saya ini harus mengirimkan uang untuk membantu memberikan jaminan bahwa uangnya bisa ditransfer ke dia. Awalnya sekitar 3 juta. Lantas, ternyata tidak cukup. Saat itulah, si temen saya ini cerita, dia udah mulai curiga. Tapi kan uangnya sudah ia transfernya. Ibaratnya, udah kepalang basah. Makanya, ia pun diminta mentransfer 4 juta lagi. Ia pun terpaksa melakukannya. Tunggu punya tunggu, uangnya yang dijanjikan tidak pernah dikirimkan kepadanya. Malahan, setelah 7 juta, si orang itu beralasan lagi butuh duit dari dia untuk mengeluarkan uangnya. Kali ini, dia sudah sadar bahwa dirinya ditipu mentah-mentah! Tapi itu sudah terlambat!
 
Hingga sekarang pun, saya sendiri secara personal masih sering menerima email penipuan seperti itu. Ada lha yang mengaku dirinya berasal dari lembaga PBB, dll. Pokoknya macam-macam. Ada pula yang yang cerita kalau dia adalah janda yang tengah mewarisi harta kekayaan serta mencari orang untuk diberikan hartanya. Bener lho email seperti ini, masih sering saya terima. Mungkin Anda juga demikian? Selain email ada juga bentuk penipuan yang cukup marak di mall. Modusnya dengan menjual sesuatu barang. Awalnya ada barang yang sedang “on sale”. Nah, kalau kita membeli satu, kita bisa mengambil undian. Lantas, dari undian itu, setelah dibuka isinya seperti, “Selamat Anda mendapat diskon 75%”. Dengan pura-pura nyaris tidak percaya, si petugas akan menelpon entah kepada siapa untuk memastikan apakah itu benar atau tidak. Lantas, terjadilah percakapan untuk membuat scenario itu tampak meyakinkan. Setelah itu, dengan berbinar-binar si pejaga stand akan mengatakan, “Selamat! Anda betul-betul beruntung! Jarang lho yang bisa dapat diskon 75%”. Bahkan, beberapa penjaga toko yang lain, ikut mendatangi dan memberi selamat. Andapun didorong untuk segera melakukan pembelian. Ujung-ujungnya, Anda sedang ditipu mereka!
 

Kok Bisa-Bisanya Tertipu?

Motif untuk mendapatkan keuntungan, ataupun keserakahan, adalah motif yang membuat orang menjadi gampang tertipu. Nah, para penipu ulang biasanya akan menggunakan “cool button” (tombol dingin) ini untuk membuat seseorang jadi tidak berfungsi secara logis. Orang pun mulai berandai-andai dan berharap. Saat itulah, fungsi logika dhentikan. Disini, orang lebih digerakkan oleh nafsu untuk menang, nafsu untuk mendapatkan keuntungan dengan mudah, nafsu cepat menjadi kaya. Dan itulah yang membuat seseorang jadi gelap mata.
 
Padahal, kalau kita menggunakan logika dan akal sehat, mestinya kita bisa berpikir dengan sederhana, bahwa sesuatu yang too good to be true, harusnya perlu dicurigai. Bayangkan saja, mengapa orang yang dari entah berantah, negeri Afrika yang begitu luas, harus email kamu untuk minta bantuan. Anda sendiri saja, kalau punya uang sebanyak itu akan meminta bantuan pada saudara atau orang yang Anda kenal. Kenapa mesti minta tolong sama orang tidak Anda kenal? Ini saja patut untuk dicuigai! Apalagi, kalau kemudian, Anda diminta harus menyetorkan uang dahulu. Artinya, kalau orang itu tulus melakukan sesuatu, mengapa mesti ada pengorbanan dari Anda? Termasuk kalau yang melakukan penjualan begitu murah dan too good to be true, perlu dipertayakan: apakah karena barangnya rusak? Ataukah karena barangnya tidak laku? Ataukah itu barang curian?
 
Tulisan ini tidak mengajarkan Anda untuk curiga, tetapi menanamkan kewaspadaan. Memang bedanya tipis. Tetapi, tatkala berhadapan dengan oarng yang tidak dikenal dan situasi yang too good to be true, mestinya kita mengembangkan “radar kewaspadaan” kita. Jangan membiarkan emosi keinginan menang, kaya ataupun keserakahan lantas membuat logika kita jadi bantu. Biasanya, tatkala logika kita buntu, disitulah kita gampang menjadi mangsa para penipu. So again, waspadalah!
 

Bagaimana Mencegah Diri Supaya Tidak Tertipu?

Pertama, mindsetnya adalah waspada. Ketika seseorang menawari sesuatu yang terlalu bagus kedengarannya, berusahalah untuk waspada. Bahkan orang yang dikenal saja bisa menipu, apalagi yang tidak dikenal sama sekali. Lebih baik berpikir waspada, tatapi kemudian Anda salah, karena toh bisa meminta maaf. Daripada Anda begitu percayanya, tetapi kemudian menyesal, namun sudah terlambat!
 
Kedua, jangan langsung merespon dengan melakukan apa yang diminta. Biasanya, dalam istilah kecerdasan emosional, logika kita sedang terbajak. Jadi, ambil jeda waktu untuk memikirkan dan merenungkan apa yang ditawarkan kepada Anda.
 
Tiga, bicara dan ngobrol dengan orang. Kadangkala, kalau sesuatu itu too good to be true, orang lain bisa menasihati kita karena mereka punya sudut pandang yang berbeda. Malahan, kadangkala orang lain bisa berpikir lebih jernih karena mereka dalam posisi sebagai orang ketiga, yang tidak punya “kelekatan emosional” dengan situasi itu. Malah, terkadang ada orang lain yang mungkin pernha tertipu ataupun pernah mengalami situasi tersebut, justru bisa memberikan “peringatan” kepada kita.
 
Empat, kalau sempat cek latar belakang orang itu. Jadi, janganlah terburu-buru percaya. Kalau ada kesempatan, lakukan cek baik melalui telepon, melalui email ataupun internet. Misalkan saja, saat ini muncul juga jenis peniupan dengan modus undian berhadiah. Tiba-tiba dikatakan Anda dapat undian berhadiah. Cobalah cek ke perusahaan dan nomer kontak resminya, apakah betul memang Anda mendapatkan hadiah. Jangan mengecek melalui no telpon ataupun email yang diberikan orang yang mengatakan Anda mendapatkan hadiah, karena biasanya mereka kongkalikong. Coba cari nomer lain yang resmi! Cek sejenak, agak merepotkan tetapi ini akan menyelamatkan nasib Anda supaya tidak ditipu orang!
 
Lima, kaau perlu lakukan test sederhana. Pasti dong ada bedanya antara orang yang jujur dengan orang yang tujuannya menipu kita. Orang yang jujur, biasanya tidak akan keberatan untuk berkorban atau melakukan sesuatu yang kita butuhkan karena memang niatnya untuk membantu kita. Dan kalaupu kita menolaknya, biasanya mereka nggak akan tersinggung. Jadi, cobalah berani untuk test mereka. Misalkan saja, kalau memang niatnya mau minta bantuan kita untuk menyimpan uangnya, tanyakan saja apakah berani mereka yang mengirimkan Anda uangnya. Atau, kalaupun undian berhadiah itu benar, mintalah hadiahnya dikirim dulu ke rumah Anda. Tantanglah mereka. Biasanya mereka akan sangat marah dan jengkel, ketika Anda bereaksi tidak percaya kepada mereka. Kalau sudah bersikap demikian, bisanya kemungkinan besar mereka ini mau menipu Anda!
 
So, kesimpulannya: “Lebih baik waspada, daripada menyesal belakangan”
 
 
 
***
 
Anthony Dio Martin
"Best EQ trainer Indonesia", direktur HR Excellency, ahli psikologi, speaker, penulis buku-buku best seller, host program Smart Emotion di radio SmartFM Jakarta dan host di TV Excellent, kolomnis rubrik Spirit di harian Bisnis Indonesia. Twitter: @anthony_dmartin dan fanpage: www.anthonydiomartin.com/go/facebook, website: www.hrexcellency.com)
 

0 komentar:

Posting Komentar