Smart Emotion RadioTalk

HR Excellency.

ELT,PLT Trainers Meet

MWS Indonesia.

with Abdul and the Coffee Theory

Seminar Kecerdasan Emosi bersama Suara Pembaruan.

Great Trainer in Action

ELT Certification Workshop.

Minggu, 24 Agustus 2014

Atlit, The Real Motivator!

(Pengalaman Motivasi Persiapan Kontingen Indonesia untuk Asian Games 2014)
“Saya percaya…
Para atlit adalah contoh motivator yang sukses!
Kalau tidak karena mereka mampu memotivasi diri mereka sendiri, tidak mungkin mereka bisa menjalankan latihan yang kreas, diet yang ketat, jadwal yang padat serta jatuh bangun mencetak prestasi hingga akhirnya bisa mewakili bangsa ke tingkat internasional!
Lagipula, tidak semua atlit nasional pun bisa berkesempatan untuk menjadi bertanding di ajang internasional.
Untuk mewakili Indonesia saja, mereka harus mengalahkan ribuan atlit lain di Indonesia, serta menjadi pemenang. Mereka ini, sebenarnya sudah menjadi motivator besar bagi diri mereka sendiri!”
 
Karena itulah, memberi motivasi bagi para atlit yang sudah menjadi “motivator” bagi dirinya sendiri itu merupakan suatu hal yang rasanya tidak gampang.
Tepatnya tanggal 17 Agustus 2014 lalu. Hari yang biasanya diawali dengan upacara. Tapi pada hari itu juga, ada tantangan memberikan “pembekalan motivasi” kepada para atlit kontingen Indonesia yang pada tanggal 19 September – 4 Oktober akan bertanding di Asian Games ke-17 di Incheon, Korea.
Terus terang, ini pemberitahuan yang dadakan. Panitianya pun menyadari.
Adalah Bp Irwan Amrun, sebagai Kasubag Psikologi Olah raga yang pertama kali approach saya dan meminta kesediaan memberikan pembekalan motivasi itu.
Ragu-ragu awalnya. Tetapi dalam hati saya muncul suara “Inilah kesempatan berkontribusi buat olah raga Indonesia yang sedang dalam sorotan, melalui apa yang bisa saya lakukan yakni motivasi. Alasan kedua, ini tantangan yang mengasyikan dan saya menyukai tantangannya!”.
Maka meski waktu persiapan hanya dua hari, sayapun mengiyakan.
 
Di tanggal 17 Agustus 2014, maka seluruh atlitpun dikumpulkan (kecuali yang sedang latih tanding ataupun sedang punya jadwal latihan di luar kota). Diawali dengan upacara, lantas dilanjutkan dengan acara berkumpul di Aula Gedung KONI Pusat. Pengarahan dimulai oleh Ketua Satlak Program Indonesia Emas (PRIMA) Bp. Suwarno. Setelah itu, acara sesi motivasipun dimulai.
 
Dari sudut pandang motivasi, menciptakan motto adalah sesuatu yang penting dan bisa menjadi “anchor” yang menyemangati. Maka, saya pun menciptakan sebuah motto selama seminar yakni: “INDONESIA: I’LL GIVE YOU MY BEST” yang diteriakkan 3 kali dengan mengepalkan tangan seperti karateka yang memukul batu bata! Eh, tapi ternyata tim Program Indonesia Emas pun telah menciptakan slogan motto yakni “INDONESIA: BISA! INDONESIA: JUARA!”. Tapi, saya pikir, semoga saja motto baru yang saya ciptakan bisa melengkapi. 
 
Seminar ini pun saya beri judul “THE WINNING FORMULA”. Intinya, untuk menjadi atlit yang sukses, selain butuh skills serta kemampuan olah raga yang memadai juga membutuhkan karakter yang kuat. Makanya, saya memperkenalkan Formula Sukses yakni: WINNING=SUKSES=VISI+IMAJINASI+AKSI+EMOSI.
 
Ada berbagai contoh dan kisah para atlit yang menginspirasi yang saya coba bawakan untuk menginspirasi peserta: kisah emosional John McEnroe vs Jimmy Connors, kisah sukses Bruce Jenner, Sergey Bubka, pelatih Vince Lombardi, kisah lucu atlit Eric Moussambani, kisah pemanah Howard Hill, dan masih banyak lagi. Dan karena bicara soal motivasi atlit, saya pun bicara dari sudut keahlian saya, soal emosi. Nah, dalam seminar 1,5 jam ini, saya menekankan perlunya atlit mengalahkan suara monster (self talk negative) serta mengalahkan emosi-emosi yang menghambat selama pertandingan.
Dan khusus di bagian ini, ada salah satu topik bahasan yang juga disukai Bp.Suwarno selaku ketua Satlak “Program Indonesia Emas” (PRIMA), yakni soal 4 tipe emosional atlit. Nah, pada kesempatan ini saya ingin sharingkan soal 4 tipe emosional atlit ini.
 

4 Tipe Emosional Atlit
 
Bicara emosi, sebenarnya kalau kita perhatikan biasanya ada 4 tipe emosional atlit yang menarik untuk dicermati. Makanya, saya menyebutnya menjadi 4 tipe emosional atlit, yakni: tipe batu bara, tipe uap panas, tipe kayu rapuh dan akhirnya tipe air yang tenang.
 
 
Tipe pertama “batu bara”, adalah atlit yang di pertandingan dia awalnya tenang. Sama seperti batu bara. Awalnya dia hitam, dingin. Tapi sejalan dengan pertandingan, ia pun jadi panas dan emosian. Khususnya, ketika ia mulai kalah, ia pun jadi panik. Mulailah menjadi emosinya menjadi tak terkendali. Serena William adalah contoh yang bagus untuk hal ini. Dunia masih mengingat kejadian dimana Serena Willaim kalah di tahun 2009 (kalah dari Kim Clijster) serta 2011 (kalah dari Samantha Stosur). Namun kekalahan ini diwarnai dengan kemarahan Serena Williams yang tiba-tiba meledak tak terkendali di lapangan. Orang lain, termasuk wasitpun menjadi sasarannya! Sampai-sampai Serena Williams pun kena denda!
 
Tipe kedua, uap panas. Inilah yang tipe atlit yang sejak masuk ke lapangan sudah panas dan emosi. Sama seperti uap panas. Ia butuh untuk dikeluarkan sesegera mungkin. Bagi si atlit, justru itulah yang dirasakan memberikan motivasi “membunuh lawan” kepadanya. Bagi saya, tingkat emosi seperti ini bisa kita lihat pada Mike Tyson. Tiap kali ia memasuki lapangan, ia ibaratkan uap panas yang siap membakar musuh-musuhnya. Memang kadang ini efektif. Tapi, karena perlu segera dikeluarkan, staminanya menjadi tidak panjang. Ketika mendapatkan musuh yang gampang berkelit dan siap dengan rally-rally yang panjang, si uap panas ini menjadi semakin frustrasi, dan makin tidak terkendali pemainannya. Ujung-ujungnya merekapun kalah!
 
Tipe ketiga, tipe kayu rapuh. Inilah atlit yang tampak tegar diluar, tapi rapuh di dalam. Tipe ini menggambarkan atlit yang emosinya penuh kecemasan dan ketakutan, juga ketidak berdayaan. Inilah atlit yang sudah kalah secara emosional sebelum bertanding. Para psikolog olah raga menyebutkan, tidak banyak atlit besar yang lahir dari tipe ini. Mereka ini sering tidak yakin, ragu-ragu dan bahkan minder. Menerapkan target yang tinggi pada orang seperti ini, hanya akan menciptakan rasa cemas yang berlebihan pada atlit semacam ini.
 
Tipe keempat, tipe air yang tenang. Inilah tipe zen master dalam mengelola emosi. Ia tenang, lebih tepatnya ia menyerang dan bertanding dengan emosi yang tenang dan cerdik. Tipe inilah yang seperti digambarkan oleh Bruce Lee, “Be water my friend, be water!” (jadilah seperti air, sahabatku!). Bruce Lee sendiri, dalam berbagai kesempatan menjadi contoh tipe emosional yang tenang, tapi “menghanyutkan”. Salah satu atlit  yang tergolong disini adalah petinju Filipina yang cukup tenang emosinya tapi mematikan di ring yakni Manny Pacquiao. Dalam pertandingan kedua, Timothy Bradley sempat mengolok-olok dan mengejek “Pacman” Pacquiao dengan kasarnya. Namun, reaksi “Pacman” tetap tenang bahkan bisa membuktikan kemenangan di pertandingan kedua April 2014 lalu.
 
Akhirnya…
Memang kalau kita perhatikan, motivasi selama 1,5 jam tidaklah terlalu lama. Dan pertanyaanya, apakah akan bermanfaat bagi para atlit. Toh, tinggal sebulan lagi waktu pertandingannya. Tetapi, kalau kita katakan, tetap saja lebih baik daripada tidak diberikan bekal motivasi sama sekali.
Di luar negeri, profesi psikologi olah raga serta para motivivator olah raga, sudah biasa. Bahkan, saya memiliki rekan trainer dan motivator di Inggris, yang tugasnya adalah mendampingi para atlit bertanding. Ada beberapa club yang ia temani. Memang sih tidak semua pertandingan pasti dimenangkan dengan adanya motivator ataupun para psikolog olah raga ini. Tapi, minimal, kalaupun mereka kalah, tidak akan membuatnya terlalu terpuruk, frustasi bahkan tidak punya nyali untuk bertanding lagi.
 
Dan saya pun percaya, kesempatan yang saya lakukan bersama dengan kontigen Indonesia untuk Asian Games ini, akan membuka kesempatan bagi para motivator lain di Indonesia, untuk membantu dan terlibat mendukung prestasi para atlit kita. Ayo, sama-sama kita buat Indonesia bergengsi karena olah raga kita yang makin maju, bukan yang sebaliknya!
 

Selasa, 19 Agustus 2014

Psikologi Penipuan: “Mengapa Orang Bisa Mudah Ditipu?”



Saya betul-betul kaget. Dia seorang trainer. Dia berpendidikan. Orangnya sangat kritis, cemerlang. Dia sahabatku. Tapi ketika dengan lesu dia mengatakan bahwa dirinya tertipu hampir 7 juta, saya nyaris tidak percaya? Modul penipuannya gimana? Temenku mulai cerita. Awalnya dia menerima email dari seseorang yang konon berasal dari Afrika. Konon menurut email ini, orang Afrika iu mencari orang yang bisa menyimpan uangnya. Plus cerita lengkap dengan link kejadian di email. Dengan data cukup meyakinkan, merekapun berkomunikasi. Awalnya, temen trainer saya ini rada sangsi. Tapi keingintahuannya ternyata menjebaknya. Komunikasi mereka makin mendalam dan akhirnya, temen saya ini bersedia membantu menampung uangnya. Ia pun dijanjikan uang. Tapi, inilah kesalahan terbesarnya…si temen saya ini harus mengirimkan uang untuk membantu memberikan jaminan bahwa uangnya bisa ditransfer ke dia. Awalnya sekitar 3 juta. Lantas, ternyata tidak cukup. Saat itulah, si temen saya ini cerita, dia udah mulai curiga. Tapi kan uangnya sudah ia transfernya. Ibaratnya, udah kepalang basah. Makanya, ia pun diminta mentransfer 4 juta lagi. Ia pun terpaksa melakukannya. Tunggu punya tunggu, uangnya yang dijanjikan tidak pernah dikirimkan kepadanya. Malahan, setelah 7 juta, si orang itu beralasan lagi butuh duit dari dia untuk mengeluarkan uangnya. Kali ini, dia sudah sadar bahwa dirinya ditipu mentah-mentah! Tapi itu sudah terlambat!
 
Hingga sekarang pun, saya sendiri secara personal masih sering menerima email penipuan seperti itu. Ada lha yang mengaku dirinya berasal dari lembaga PBB, dll. Pokoknya macam-macam. Ada pula yang yang cerita kalau dia adalah janda yang tengah mewarisi harta kekayaan serta mencari orang untuk diberikan hartanya. Bener lho email seperti ini, masih sering saya terima. Mungkin Anda juga demikian? Selain email ada juga bentuk penipuan yang cukup marak di mall. Modusnya dengan menjual sesuatu barang. Awalnya ada barang yang sedang “on sale”. Nah, kalau kita membeli satu, kita bisa mengambil undian. Lantas, dari undian itu, setelah dibuka isinya seperti, “Selamat Anda mendapat diskon 75%”. Dengan pura-pura nyaris tidak percaya, si petugas akan menelpon entah kepada siapa untuk memastikan apakah itu benar atau tidak. Lantas, terjadilah percakapan untuk membuat scenario itu tampak meyakinkan. Setelah itu, dengan berbinar-binar si pejaga stand akan mengatakan, “Selamat! Anda betul-betul beruntung! Jarang lho yang bisa dapat diskon 75%”. Bahkan, beberapa penjaga toko yang lain, ikut mendatangi dan memberi selamat. Andapun didorong untuk segera melakukan pembelian. Ujung-ujungnya, Anda sedang ditipu mereka!
 

Kok Bisa-Bisanya Tertipu?

Motif untuk mendapatkan keuntungan, ataupun keserakahan, adalah motif yang membuat orang menjadi gampang tertipu. Nah, para penipu ulang biasanya akan menggunakan “cool button” (tombol dingin) ini untuk membuat seseorang jadi tidak berfungsi secara logis. Orang pun mulai berandai-andai dan berharap. Saat itulah, fungsi logika dhentikan. Disini, orang lebih digerakkan oleh nafsu untuk menang, nafsu untuk mendapatkan keuntungan dengan mudah, nafsu cepat menjadi kaya. Dan itulah yang membuat seseorang jadi gelap mata.
 
Padahal, kalau kita menggunakan logika dan akal sehat, mestinya kita bisa berpikir dengan sederhana, bahwa sesuatu yang too good to be true, harusnya perlu dicurigai. Bayangkan saja, mengapa orang yang dari entah berantah, negeri Afrika yang begitu luas, harus email kamu untuk minta bantuan. Anda sendiri saja, kalau punya uang sebanyak itu akan meminta bantuan pada saudara atau orang yang Anda kenal. Kenapa mesti minta tolong sama orang tidak Anda kenal? Ini saja patut untuk dicuigai! Apalagi, kalau kemudian, Anda diminta harus menyetorkan uang dahulu. Artinya, kalau orang itu tulus melakukan sesuatu, mengapa mesti ada pengorbanan dari Anda? Termasuk kalau yang melakukan penjualan begitu murah dan too good to be true, perlu dipertayakan: apakah karena barangnya rusak? Ataukah karena barangnya tidak laku? Ataukah itu barang curian?
 
Tulisan ini tidak mengajarkan Anda untuk curiga, tetapi menanamkan kewaspadaan. Memang bedanya tipis. Tetapi, tatkala berhadapan dengan oarng yang tidak dikenal dan situasi yang too good to be true, mestinya kita mengembangkan “radar kewaspadaan” kita. Jangan membiarkan emosi keinginan menang, kaya ataupun keserakahan lantas membuat logika kita jadi bantu. Biasanya, tatkala logika kita buntu, disitulah kita gampang menjadi mangsa para penipu. So again, waspadalah!
 

Bagaimana Mencegah Diri Supaya Tidak Tertipu?

Pertama, mindsetnya adalah waspada. Ketika seseorang menawari sesuatu yang terlalu bagus kedengarannya, berusahalah untuk waspada. Bahkan orang yang dikenal saja bisa menipu, apalagi yang tidak dikenal sama sekali. Lebih baik berpikir waspada, tatapi kemudian Anda salah, karena toh bisa meminta maaf. Daripada Anda begitu percayanya, tetapi kemudian menyesal, namun sudah terlambat!
 
Kedua, jangan langsung merespon dengan melakukan apa yang diminta. Biasanya, dalam istilah kecerdasan emosional, logika kita sedang terbajak. Jadi, ambil jeda waktu untuk memikirkan dan merenungkan apa yang ditawarkan kepada Anda.
 
Tiga, bicara dan ngobrol dengan orang. Kadangkala, kalau sesuatu itu too good to be true, orang lain bisa menasihati kita karena mereka punya sudut pandang yang berbeda. Malahan, kadangkala orang lain bisa berpikir lebih jernih karena mereka dalam posisi sebagai orang ketiga, yang tidak punya “kelekatan emosional” dengan situasi itu. Malah, terkadang ada orang lain yang mungkin pernha tertipu ataupun pernah mengalami situasi tersebut, justru bisa memberikan “peringatan” kepada kita.
 
Empat, kalau sempat cek latar belakang orang itu. Jadi, janganlah terburu-buru percaya. Kalau ada kesempatan, lakukan cek baik melalui telepon, melalui email ataupun internet. Misalkan saja, saat ini muncul juga jenis peniupan dengan modus undian berhadiah. Tiba-tiba dikatakan Anda dapat undian berhadiah. Cobalah cek ke perusahaan dan nomer kontak resminya, apakah betul memang Anda mendapatkan hadiah. Jangan mengecek melalui no telpon ataupun email yang diberikan orang yang mengatakan Anda mendapatkan hadiah, karena biasanya mereka kongkalikong. Coba cari nomer lain yang resmi! Cek sejenak, agak merepotkan tetapi ini akan menyelamatkan nasib Anda supaya tidak ditipu orang!
 
Lima, kaau perlu lakukan test sederhana. Pasti dong ada bedanya antara orang yang jujur dengan orang yang tujuannya menipu kita. Orang yang jujur, biasanya tidak akan keberatan untuk berkorban atau melakukan sesuatu yang kita butuhkan karena memang niatnya untuk membantu kita. Dan kalaupu kita menolaknya, biasanya mereka nggak akan tersinggung. Jadi, cobalah berani untuk test mereka. Misalkan saja, kalau memang niatnya mau minta bantuan kita untuk menyimpan uangnya, tanyakan saja apakah berani mereka yang mengirimkan Anda uangnya. Atau, kalaupun undian berhadiah itu benar, mintalah hadiahnya dikirim dulu ke rumah Anda. Tantanglah mereka. Biasanya mereka akan sangat marah dan jengkel, ketika Anda bereaksi tidak percaya kepada mereka. Kalau sudah bersikap demikian, bisanya kemungkinan besar mereka ini mau menipu Anda!
 
So, kesimpulannya: “Lebih baik waspada, daripada menyesal belakangan”
 
 
 
***
 
Anthony Dio Martin
"Best EQ trainer Indonesia", direktur HR Excellency, ahli psikologi, speaker, penulis buku-buku best seller, host program Smart Emotion di radio SmartFM Jakarta dan host di TV Excellent, kolomnis rubrik Spirit di harian Bisnis Indonesia. Twitter: @anthony_dmartin dan fanpage: www.anthonydiomartin.com/go/facebook, website: www.hrexcellency.com)