Smart Emotion RadioTalk

HR Excellency.

ELT,PLT Trainers Meet

MWS Indonesia.

with Abdul and the Coffee Theory

Seminar Kecerdasan Emosi bersama Suara Pembaruan.

Great Trainer in Action

ELT Certification Workshop.

Rabu, 31 Juli 2013

BELAJAR DARI OBITUARI SEORANG SAHABAT!

Pagi ini aku bersedih. Pagi-pagi aku mendapatkan berita duka. Seorang sahabat dan rekan yang dulu sama-sama kuliah, Christine Siwi Handayani meninggal.  Biasanya, respon kita mendapat berita duka  cita seperti itu adalah terhenyak lantas sekan-akan file dalam memori kita pun bergerak untuk mencari data kenangan yang kita miliki tentang orang tersebut.

Pertama-tama, saya punya memori kembali ke bangku kuliah. Dengan Siwi, begitu kami biasa memanggilnya di kampus, saya sering tukeran buku textbook dan buku diktat. Sampai sekarang pun, masih ada satu buku “Psikologi Abnormal” hasil tukeran dengan Siwi yang bertengger rapih di rak buku saya. Masih ada nama dan tanda tangannya Siwi. Bahkan, ketika tukeran, kadang aku merasa dia tukeran rugi denganku. Masalahnya, Siwi biasanya hanya dapat buku textbook dari aku. Tapi, aku bisa dapat textbook plus catatan kuliahnya dulu, yang amat rapi. Masalahnya, dulu aku agak jarang mencatat. Apalagi, di akhir-akhir semester.

Kedua, Siwi termasuk kelompok langka yang setelah kuliah, memutuskan untuk jadi pengajar. Sementara, kebanyakan dari kami, setelah kuliah pasti bicara soal kerja di perusahaan, bangun lembaga psikotest, atau jadi eksekutif di perusahaan suatu saat nanti. Siwi memutuskan menjalankan panggilan jadi dosen. Sebuah pilihan yang kadang biasanya popular di mata para mahasiswaya, tetapi tidak menjadi terlalu istimewa tatkala dibicara pada saat-saat reuni berlangsung. Biasanya, saat reuni, orang akan lebih sibuk membicarakan, “Eh, dia sukses jadi eksekutif. Punya perusahaan ini itu. Dia udah jadi direktur!”, dll. Tampaknya itulah yang lebih bergengsi. Tapi, kalau jadi dosen? Hmmm. Sekali lagi, biasanya populer di mata para mahasiswa tetapi di mata para sesama alumni, biasanya tidak menjadi terlalu istimewa (kecuali akhirnya dia jadi dekan ataupun rektor). Tapi, Siwi memutuskan untuk jadi dosen dan mengabdi. Saya yakin, kalau dulu Siwi mau kerjapun, dengan mudahnya, ia bisa mendapatkan pekerjaan. Tetapi, membuat pilihan jadi dosen, tidaklah gampang. Saya tahu, jadi inspirasi “ilmu” bagi mahasiswa memang mulia, tetapi tidaklah gampang untuk dijalani.  

Ketiga, saya sempat terkaget-kaget dan melongo tatkala diberitahu bahwa Siwi adalah ketua, perkumpulan kempo di Yogyakarta, lengkapnya Ketua Umum Perkumpulan Kempo Indonesia daerah istimewa Yogyakarta. Ha? Kempo? Nggak Siwi banget! Setahuku Siwi orang yang lembut, cenderung mengindari konflik. Termasuk waktu Siwi bergabung dalam kelompok mahasiswa dimana saya jadi ketuanya. Siwi, cenderung submissive, patuh. Tapi, itulah…HIDUP ORANG BERUBAH. Dan saya pikir, itu adalah perubahan yang sangat positif, menurutku. Nggak mudah mendalami bela diri, apalagi jadi ketuanya. Wah! Pasti sebuah pengorbanan yang luar biasa! Waktu, energi, perasaan….banyak yang mesti dikorbankan. Inipun jadi pertanyaan refleksiku….APAKAH YANG AKU KORBANKAN DALAM HIDUPKU YANG MEMBUATKU LAYAK UNTUK DIKENANG?

Keempat, tatkala para teman angkatanku menghimpun dana untuk membantu Siwi, saya baru tahu bahwa Siwi menderita penyakit parah. Rambutnya hilang. Tapi, yang luar biasa, Siwi adalah pejuang sejati. Wanita yang tabah. Saya sering mengunjungi akun facebooknya dan yang saya lihat adalah wanita yang tersenyum dengan anak-nya. Bukan wajah yang menderita. Pertanyaan saya, pada saat anda menderita karena penyakit, bisakah Anda masih tetap tersenyum? Nggak mudah! TIDAK MUDAH UNTUK TETAP SENYUM CERIA PADA SAAT ANDA MENDERITA!

ORANG MENINGGAL TIDAK AKAN MATI SIA-SIA!
Saya percaya, seseorang tidak akan mati sia-sia. Apalagi untuk orang seperti Siwi yang telah menyentuh kehidupan begitu banyak mahasiswanya. Pagi inipun, saya mendapatkan beritanya dari mahasiswanya. Saya yakin, pada saat tulisan ini dibuat, ada begitu banyak SMS, facebook maupun twitter yang sedang membicarakan dan menulis untuk Siwi. Itulah wujud penghargaan dari orang-orang yang pernah disentuh dalam hidupnya. Termasuk saat saya menuliskan tulisan ini. Pada saat ini, saya yakin, ada begitu banyak kepala yang memutar kembali memori tentang Siwi. Apa pelajarannya?

MAKANYA, LEBIH BAIK INVESTASI UNTUK MANUSIA. UANG BERGUNA, TETAPI UANG TIDAK AKAN PERNAH MEMBICARAKAN KITA SAAT KITA MATI. TETAPI, ORANG YANG KITA SENTUH ATAU PERNAH KITA INVESTASIKAN, AKAN TERUS MENGENANG KITA. INVESTASILAH PADA MANUSIA!


Selamat jalan untuk Siwi sahabatku. Kehidupanmu menjadi pembelajaran bagiku dan bagi kita semua.