Kamis, 31 Desember 2015

Akhir Tahun atau Tahun Terakhir?





Siapa yang akan menyangka kalau udah bicara soal umur?
Saya ingin terus terang..
Bagi saya, tahun 2015 adalah tahun berduka!
Di tahun 2015 inilah, saya kehilangan Johny, kakak tertua di keluarga.
Sungguh tidak menyangka karena saat tahun baru 2015 Johny kakaku, masih dalam kondisi cukup sehat. Tetapi segala kesehatannya merosot sejak awal tahun Januari 2015.
Jadi, tahun 2015 akhirnya lebih banyak dihabiskan dengan berkunjung ke rumah sakit dan menemani kakakku sampai beliau menghembuskan nafas terakhirnya, saya berada di sana!
Iya, nafas terakhirnya!


Karena saat menghembuskan nafas terakhirnya saya berada disana.
Kata orang, nggak sembarangan orang dijinkan sama yang akan meninggal untuk melihat orang tersebut menghembuskan nafas terakhir
Benarkah? Nggak taulah!

Yang jelas, saya punya beberapa teman yang sampai sekarang masih berandai-andai bisa melihat orang tercintanya menghembuskan nafas-nafas tereakhirnya.

Tapi percayalah, bukanlah sesuatu yang mudah jika kita berkesempatan melihat orang yang kita kasihi meninggalkan dunia ini.
Bahkan, itu bisa menjadi kenangan yang sedih…
Meskipun berbagai teori soal cara reframing-nya NLP mengajarkan kita soal bagaimana melihat peristiwa ini dari sisi yang positif.
Tapi, tetaplah tidak mudah dan butuh waktu..
Dan sekarang ini, setelah melakukan sesi self-therapy untuk diri saya sendiri beberapa kali… barulah saya bisa mengiklaskan orang yang telah berperan seperti seorang ayah buat saya, untuk pergi selamanya.
Ngomong-ngomong…

Kapan Nafas Terakhir?
Inilah yang ingin saya refleksikan.
Di akhir tahun ini, kita masih bergembira saat menyongsong pergantian tahun.
Tapi siapa tahu, kita tidak akan pernah menikmati pergantian tahun depan?

Ini bukan tulisan menada negatif, menakuti atau paranoid (orang bilang parno).
Anda tahu, saya bukanlah orang yang demikian.
Bukan yang hobinya nakutin orang.
Tapi ada bagusnya kita belajar untuk bersiap diri dan mewaspadai, dengan segala skenrio di tahun depan.
Saya ingin mengakhiri refleksi akhir tahun ini dengan sebuah pertanyaan yang bernada agak pesimis, agar justru dengan itu kita menjadi lebih antusias menjalani tahun 2016 kita ke depan…
“Bagaimana SEANDAINYA tahun 2016 nanti adalah tahun terakhirmu?”

Sarannya sederhana..
Hidupilah puisi ini..

Hidupilah 2016 Secara Penuh
Setiap hari, berjanjilah…
Hiduplah secara PENUH..
Jangan menyia-nyiakan.
Ketika ada kesempatan travelling, travellinglah..
Luangkan waktu bersama keluarga lebih banyak, karena merekalah yang akan bersamamu di saat-saat terakhirmu
Jangan simpan-simpan barang yang kamu pikir akan kamu pakai di masa-masa mendatang.. sebab kamu mungkin tidak akan pernah memakainya…
Hargailah pertemanan dan persahabatan…
Jangan hidup dengan apa yang terjadi di masa lampau..
Jangan hidup mencemaskan apa yang belum terjadi
Juga hari-hari yang belum tentu kamu miliki..
Lakukanlah yang terbaik hari ini
Itulah cara terbaik menjamin masa depanmu..
Selain itu..
Hiduplah secara penuh!

Selamat Tahun Baru 2016!


Salam Antusias,

Anthony Dio Martin

0 komentar:

Posting Komentar