Selasa, 15 September 2015

MATINYA LOYALITAS KERJA???




“Hari gini masih bicara soal loyalitas kerja?”, kata manager yang aku konseling. Begitulah tanggapan yang sering muncul kalau kita bicara soal topik ini.Banyak yang menganggap setia atau lama bekerja di suatu perusahaan itu adalah nilai-nilai yang nggak jamannya lagi. Agak kolot.
Jaman sekarang adalah jaman kutu loncat.

Jadi tak mengherankan kalau kita bertemu ataupun mewawancarai yang pengalaman kerjanya baru 2 tahun tapi sudah berpindah beberapa perusahaan.
Alasan kepindahan itupun beragam. Yang lumrah adalah karena uang, ada yang karena lingkungan yang tidak menyenangkan, ada pula yang karena merasa pekerjaannya nggak fit.


Tapi yang jelas, kini banyak perusahaan yang pusing karena kebanyakan karyawan tidak lagi menghidupi spirit loyalitas pada perusahaan. Apalagi kalau kita bicara soal generasi millennium. Generasi Y ataupun Z yang lahir setelah tahun 1980. Dikatakan bahawa salah satu kebiasaan mereka adalah, tidak betah berlama-lama di suatu organisasi ataupun perusahaan.

Mengapa Loyalitas Berkurang?
Salah satunya adalah karena lapangan pekerjaan yang semakin terbuka. Dengan begitu, seorang karyawan kadang ingin “menguji” kemampuannya di tempat yang berbeda. Tapi, penyebab lainnya sebenarnya juga berkaitan dengan ketahanan mental. Bertahan lama di suatu organisasi, tidaklah gampang.

Selain karena bisa jadi tenggelam dalam comfort zone-nya, ada siklus kejenuhan yang umumnya bisa terjadi, tatkala seseorang berada terlalu lama di organisasi. Dengan demikian, tak heran banyak pekerja dewasa ini yang gampang untuk berpindah.

Menariknya, beberapa peneliti perilaku kerja di Jepang yang konon terkenal sebagai bangsa dengan loyalitas kerja yang tinggi, menemukan adanya pegereseran nilai juga pada generasi sekarang. Selain karena alasan kebosanan, serta mencari peluang, salah satu penyebab lainya adalah karena generasi sekarang dianggap kurang tahan mental. Tatkala menghadapi masalah, dengan mudahnya “keluar dari tempat kerja” dianggap sebagai solusinya.

Masih Perlukah Loyalitas?
Mari kita lihat pro dan cons, ketika seseorang berpindah-pindah kerja.
Kita lihat pro-nya dulu.

Ketika berpindah, alasan yang paling lumrah adalah karena tawaran dan “paket” yang lebih menguntungkan. Bisa juga alasan kepindahan karena jam kerja yang lebih pendek ataupun lbih dekat rumah (biasanya untuk pekerja wanita). Jadi,hal ini menguntungkan secara pribadi.

Tapi, disisi lain, kenyataan juga membuktikan beberapa karyawan yang berpindah ternyata puanya peluang karir yang lebih cepat, dibandingkan yang stay ditempatnya. Seorang rekan Direktur sebuah bank mengatakan begini, “Kalau dulu saya nggak keluar dari bank tempat pertama saya keluar dan pindah, mungkin saya cuma jadi manager di tempat dulu, sampai sekarang”.
Tapi, problemnya tidak semua bernasib demikian. Ada pula yang karena sangat banyak berpindah, karirnya tidak pernah “solid”, tidak pernah mapan. Akibatnya posisinya juga hanya berputar-putar disekitar itu saja. Pendapatannya mungkin saja naik, tapi karirna tidak melesat.

Memang sih secara gaji ataupun kesejahteraan, orang yang pindah, kondisinya membaik. Tapi, sebenarnya problem dengan orang yang hobi pindah-pindah kerja adalah tidak pernah punya kesempatan untuk membangun kompetensi yang solid. Apalagi, kalau orang tersebut tidak pernah sungguh-sungguh menyelesaikan suatu proyek, tapi tahu-tahu karena tawaran menggiurkan, orang ini telah bepindah. Jadilah orang ini menjadi “kutu loncat” sungguhan tanpa punya kompetensi!

Memaknai Loyalitas Dengan Cara Baru
Saya bukan pembela loyalitas buta.
Juga bukan pembela orang yang loncat-loncat dari satu organisasi ke organisasi lain.
Tapi, saya pikir, yang namanya loyalitas memang perlu didefinisikan ulang.

Sebenarnya, ada 4 level loyalitas yang bisa kita renungkan.
Loyalitas pertama, loyal kepada orang. Jadi, Anda loyal pada suatu organisasi, karena ada orang tersebut. Kalau orang itu pindah, Anda pun ikut berpikri karena Anda setia kepadanya.
Loyalitas kedua adalah loyalitas pada organisasi. Anda nggak peduli, siapapun yang memimpin perusahaan itu, Anda tetap akan bertahan di perusahaan itu karena Anda suka dengan brand perusahan itu.
Loyalitas ketiga adalah loyalitas pada kompetensi. Anda loyal dengan pekerjaan. Jadi mau dimanapun, diperusahaan manapun, Anda bekerja yang sesuai dengan bakat dan kemampuan Anda. Ini loyalitas yang mirip pemain sepakbola atau atlit profesional. Nggak peduli dia bermain di club mananapun. Asalkan dia masih bisa tetap bermain, akan dijalaninya.

Namun, ada satu loyalitas yang langka. Loyalitas pada panggilan.
Disinilah seseorang loyal karena adanaya nilai-nilai tertentu yang diperjuangkan. Dia melihat sesuatu yang mulia di organisasi dimana ia bekerja saat ini.
Orang bersedia dibayar murah bahkan mungkin tidak digaji. Tetap memberikan yang terbaik. Karena ia merasa terpanggil untuk melakukan pekerjaan itu.
Untuk yang satu ini, tanyakanlah pada pekerja social, pekerja LSM, mengenai loyalitas pada panggilan ini.

Nah, pertanyaannya Anda berada di level yang manakah?

So, Apa Solusinya?
Pertama, berpindah bukanlah sesuatu yang tabu. Karena itu menyangkut suatu pilihan. Tetapi, berpindah-pindah juga bukan nilai yang dianjurkan. Banyak perusahaan yang justru ngeri dengan mereka yang hobinya berpindah-pindah.

Kedua, alasan berpindah harus jelas. Jangan terlalu sering berpindah gara-gara hanya beda beberapa ratus ribu ataupun beberapa juta rupiah saja. Berpindah berarti memulai lagi pembelajaran dan siklus karir Anda. Anda haru ulai dari nol lagi. Jadi bijaklah tatkala memutuskan untuk pindah.

Tiga, jangan berpindah sebelum menyelesaikan proyek Anda. Jangan pula berpindah untuk menghindari masalah. Di tempat yang baru akan ada tugas yang perlu kamu selesaikan, juga problem yang baru menanti Anda. Belajarlah menjadi pribadi yang matang, dalam menghadapi masalah bukan “berpindah” untuk menyelesaikan masalahmu.



0 komentar:

Posting Komentar