Selasa, 16 Agustus 2011

BEBAS FISIK DAN MENTAL: DIRGAHAYU 66 TAHUN BANGSAKU!



Dalam bukunya yang terkenal, Man Search for Meaning, Dr Victor Frankl, seorang psikoterapis terkenal yang pernah ditawan di kamp konsentrasi Nazi, mengisahkan perjalanan hidupnya. Selama tiga tahun lebih ia ditawan di kamp konsentrasi, dengan sangat kejam. Disitulah ia melihat perjuangan antara hidup dan mati serta bagaimana manusia dipojokkan sampai batas kemampuan bertahannya. Banyak yang frustrasi dan nyaris gila. Tetapi, yang menarik menurut Victor Fankl, selalu ada orang-orang yang menghibur sesama tahanan yang lain, sambil membagikan roti terakhir mereka. Dan inilah yang ia tuliskan, “Orang-orang seperti itu mungkin hanya sedikit, namun itulah buktinya bahwa segala sesuatu bisa dirampas dari seseorang kecuali kebebasannya menentukan sikap dalam menghadapi keadaan apapun.”

Kisah pengalaman dan kesimpulan Victor Frankl diatas sengaja saya pilih dalam tulisan saya yang saya tuliskan untuk kolom SPIRIT di koran Bisnis Indonesia tadi pagi. Tema ini saya pilih di sela-sela kita sedang membicarakan soal perayaan tujuhbelasan. Dan saya yakin, dibalik kemeriahan dan liburan kita karena perayaan 17 Agustus, mari kita tidak melupakan esensinya yang penting yakni soal merayakan KEBEBASAN kita. Sayangnya, meskipun secara fisik kita telah merdeka, tetapi cara berpikir dan cara kita bersikap, kadang masih terjajah. Mari kita renungkan kalimat Jose Rizal, pejuang anti kolonialisme dari Filipina, “…penjara mental kita seringkali lebih hebat daripada penjara fisik yang kita alami. Kita mudah menerobos penjara fisik, tetapi kita mungkin tidak pernah bisa lepas dari penjara mental, selama kita tidak mengupayakannya”. Sudah merdekakah kita secara fisik dan mental? DIRGAHAYU BANGSAKU....!

0 komentar:

Posting Komentar