(Pengalaman Motivasi Persiapan
Kontingen Indonesia untuk Asian Games 2014)
“Saya percaya…
Para atlit adalah contoh motivator yang sukses!
Kalau tidak karena mereka mampu memotivasi diri mereka sendiri, tidak
mungkin mereka bisa menjalankan latihan yang kreas, diet yang ketat, jadwal
yang padat serta jatuh bangun mencetak prestasi hingga akhirnya bisa mewakili
bangsa ke tingkat internasional!
Lagipula, tidak semua atlit nasional pun bisa berkesempatan untuk
menjadi bertanding di ajang internasional.
Untuk mewakili Indonesia saja, mereka harus mengalahkan ribuan atlit
lain di Indonesia, serta menjadi pemenang. Mereka ini, sebenarnya sudah menjadi
motivator besar bagi diri mereka sendiri!”
Karena itulah, memberi motivasi bagi para atlit yang sudah menjadi
“motivator” bagi dirinya sendiri itu merupakan suatu hal yang rasanya tidak gampang.
Tepatnya tanggal 17 Agustus 2014 lalu. Hari yang biasanya diawali
dengan upacara. Tapi pada hari itu juga, ada tantangan memberikan “pembekalan motivasi”
kepada para atlit kontingen Indonesia yang pada tanggal 19 September – 4
Oktober akan bertanding di Asian Games ke-17 di Incheon, Korea.
Terus terang, ini pemberitahuan yang dadakan. Panitianya pun menyadari.
Adalah Bp Irwan Amrun, sebagai Kasubag Psikologi Olah raga yang pertama
kali approach saya dan meminta kesediaan memberikan pembekalan motivasi itu.
Ragu-ragu awalnya. Tetapi dalam hati saya muncul suara “Inilah kesempatan berkontribusi buat olah
raga Indonesia yang sedang dalam sorotan, melalui apa yang bisa saya lakukan
yakni motivasi. Alasan kedua, ini tantangan yang mengasyikan dan saya menyukai
tantangannya!”.
Maka meski waktu persiapan hanya dua hari, sayapun mengiyakan.
Di tanggal 17 Agustus 2014, maka seluruh atlitpun dikumpulkan (kecuali
yang sedang latih tanding ataupun sedang punya jadwal latihan di luar kota).
Diawali dengan upacara, lantas dilanjutkan dengan acara berkumpul di Aula
Gedung KONI Pusat. Pengarahan dimulai oleh Ketua Satlak Program Indonesia Emas
(PRIMA) Bp. Suwarno. Setelah itu, acara sesi motivasipun dimulai.
Dari sudut pandang motivasi, menciptakan motto adalah sesuatu yang
penting dan bisa menjadi “anchor” yang menyemangati. Maka, saya pun menciptakan
sebuah motto selama seminar yakni: “INDONESIA: I’LL GIVE YOU MY BEST” yang
diteriakkan 3 kali dengan mengepalkan tangan seperti karateka yang memukul batu
bata! Eh, tapi ternyata tim Program Indonesia Emas pun telah menciptakan slogan
motto yakni “INDONESIA: BISA! INDONESIA: JUARA!”. Tapi, saya pikir, semoga saja
motto baru yang saya ciptakan bisa melengkapi.
Seminar ini pun saya beri judul “THE WINNING FORMULA”. Intinya, untuk
menjadi atlit yang sukses, selain butuh skills serta kemampuan olah raga yang
memadai juga membutuhkan karakter yang kuat. Makanya, saya memperkenalkan
Formula Sukses yakni: WINNING=SUKSES=VISI+IMAJINASI+AKSI+EMOSI.
Ada berbagai contoh dan kisah para atlit yang menginspirasi yang saya
coba bawakan untuk menginspirasi peserta: kisah emosional John McEnroe vs Jimmy
Connors, kisah sukses Bruce Jenner, Sergey Bubka, pelatih Vince Lombardi, kisah
lucu atlit Eric Moussambani, kisah pemanah Howard Hill, dan masih banyak lagi.
Dan karena bicara soal motivasi atlit, saya pun bicara dari sudut keahlian
saya, soal emosi. Nah, dalam seminar 1,5 jam ini, saya menekankan perlunya
atlit mengalahkan suara monster (self talk negative) serta mengalahkan
emosi-emosi yang menghambat selama pertandingan.
Dan khusus di bagian ini, ada salah satu topik bahasan yang juga
disukai Bp.Suwarno selaku ketua Satlak “Program Indonesia Emas” (PRIMA), yakni
soal 4 tipe emosional atlit. Nah, pada kesempatan ini saya ingin sharingkan
soal 4 tipe emosional atlit ini.
4 Tipe Emosional Atlit
Bicara emosi, sebenarnya kalau kita perhatikan biasanya ada 4 tipe
emosional atlit yang menarik untuk dicermati. Makanya, saya menyebutnya menjadi
4 tipe emosional atlit, yakni: tipe batu bara, tipe uap panas, tipe kayu rapuh
dan akhirnya tipe air yang tenang.
Tipe pertama “batu bara”, adalah atlit yang
di pertandingan dia awalnya tenang. Sama seperti batu bara. Awalnya dia hitam,
dingin. Tapi sejalan dengan pertandingan, ia pun jadi panas dan emosian.
Khususnya, ketika ia mulai kalah, ia pun jadi panik. Mulailah menjadi emosinya
menjadi tak terkendali. Serena William adalah contoh yang bagus untuk hal ini.
Dunia masih mengingat kejadian dimana Serena Willaim kalah di tahun 2009 (kalah
dari Kim Clijster) serta 2011 (kalah dari Samantha Stosur). Namun kekalahan ini
diwarnai dengan kemarahan Serena Williams yang tiba-tiba meledak tak terkendali
di lapangan. Orang lain, termasuk wasitpun menjadi sasarannya! Sampai-sampai
Serena Williams pun kena denda!
Tipe kedua, uap panas. Inilah yang tipe atlit yang sejak masuk ke
lapangan sudah panas dan emosi. Sama seperti uap panas. Ia butuh untuk dikeluarkan
sesegera mungkin. Bagi si atlit, justru itulah yang dirasakan memberikan motivasi
“membunuh lawan” kepadanya. Bagi saya, tingkat emosi seperti ini bisa kita
lihat pada Mike Tyson. Tiap kali ia memasuki lapangan, ia ibaratkan uap panas yang
siap membakar musuh-musuhnya. Memang kadang ini efektif. Tapi, karena perlu
segera dikeluarkan, staminanya menjadi tidak panjang. Ketika mendapatkan musuh
yang gampang berkelit dan siap dengan rally-rally yang panjang, si uap panas
ini menjadi semakin frustrasi, dan makin tidak terkendali pemainannya.
Ujung-ujungnya merekapun kalah!
Tipe ketiga, tipe kayu rapuh. Inilah atlit yang tampak tegar diluar,
tapi rapuh di dalam. Tipe ini menggambarkan atlit yang emosinya penuh kecemasan
dan ketakutan, juga ketidak berdayaan. Inilah atlit yang sudah kalah secara
emosional sebelum bertanding. Para psikolog olah raga menyebutkan, tidak banyak
atlit besar yang lahir dari tipe ini. Mereka ini sering tidak yakin, ragu-ragu
dan bahkan minder. Menerapkan target yang tinggi pada orang seperti ini, hanya
akan menciptakan rasa cemas yang berlebihan pada atlit semacam ini.
Tipe keempat, tipe air yang tenang. Inilah tipe zen master dalam
mengelola emosi. Ia tenang, lebih tepatnya ia menyerang dan bertanding dengan
emosi yang tenang dan cerdik. Tipe inilah yang seperti digambarkan oleh Bruce
Lee, “Be water my friend, be water!”
(jadilah seperti air, sahabatku!). Bruce Lee sendiri, dalam berbagai
kesempatan menjadi contoh tipe emosional yang tenang, tapi “menghanyutkan”.
Salah satu atlit yang tergolong disini
adalah petinju Filipina yang cukup tenang emosinya tapi mematikan di ring yakni
Manny Pacquiao. Dalam pertandingan kedua, Timothy Bradley sempat mengolok-olok
dan mengejek “Pacman” Pacquiao dengan kasarnya. Namun, reaksi “Pacman” tetap tenang
bahkan bisa membuktikan kemenangan di pertandingan kedua April 2014 lalu.
Akhirnya…
Memang kalau kita perhatikan, motivasi selama 1,5 jam tidaklah terlalu
lama. Dan pertanyaanya, apakah akan bermanfaat bagi para atlit. Toh, tinggal
sebulan lagi waktu pertandingannya. Tetapi, kalau kita katakan, tetap saja
lebih baik daripada tidak diberikan bekal motivasi sama sekali.
Di luar negeri, profesi psikologi olah raga serta para motivivator olah
raga, sudah biasa. Bahkan, saya memiliki rekan trainer dan motivator di
Inggris, yang tugasnya adalah mendampingi para atlit bertanding. Ada beberapa
club yang ia temani. Memang sih tidak semua pertandingan pasti dimenangkan
dengan adanya motivator ataupun para psikolog olah raga ini. Tapi, minimal,
kalaupun mereka kalah, tidak akan membuatnya terlalu terpuruk, frustasi bahkan
tidak punya nyali untuk bertanding lagi.
Dan saya pun percaya, kesempatan yang saya lakukan bersama dengan
kontigen Indonesia untuk Asian Games ini, akan membuka kesempatan bagi para
motivator lain di Indonesia, untuk membantu dan terlibat mendukung prestasi
para atlit kita. Ayo, sama-sama kita buat Indonesia bergengsi karena olah raga
kita yang makin maju, bukan yang sebaliknya!